Menilik Sahabat Mu’awiyah bin Abu sufyan ; Sang penjahat perang

Uncategorized


Keterangan gambar: Makam sahabat Muawiyah bin Abu Sofyan di Syria. Digembok rapat karena orang-orang suka membuang kotoran di makam ini. Konon di sekitarnya juga tumbuh pohon berduri yang tidak tumbuh di tempat lain.


 

 

Hadist berkaitan dengan Muawiyah:

1. Suka minum khamr

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا زيد بن الحباب حدثني حسين ثنا عبد الله بن بريدة قال دخلت أنا وأبي على معاوية فأجلسنا على الفرش ثم أتينا بالطعام فأكلنا ثم أتينا بالشراب فشرب معاوية ثم ناول أبي ثم قال ما شربته منذ حرمه رسول الله صلى الله عليه و سلم ثم قال معاوية كنت أجمل شباب قريش وأجوده ثغرا وما شيء كنت أجد له لذة كما كنت أجده وأنا شاب غير اللبن أو إنسان حسن الحديث يحدثني

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab yang berkata telah menceritakan kepadaku Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah yang berkata “Aku dan Ayahku datang  ke tempat Muawiyah, ia mempersilakan kami duduk di hamparan . Ia menyajikan makanan dan kami memakannya kemudian ia menyajikan minuman, ia meminumnya dan menawarkan kepada ayahku. Ayahku berkata “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW”. Muawiyah berkata “aku dahulu adalah pemuda Quraisy yang paling rupawan dan tidak ada kenikmatan yang kumiliki seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku” [Musnad Ahmad 5/347 no 22991, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya kuat”]

2. Di Kecam atau dikutuk Rasulullah selamanya takkan merasakan kenyang ,karena suka makan

خالد حدثنا شعبة عن أبي حمزة القصاب عن ابن عباس قال كنت ألعب مع الصبيان فجاء رسول الله صلى الله عليه و سلم فتواريت خلف باب قال فجاء فحطأني حطأة وقال اذهب وادع لي معاوية قال فجئت فقلت هو يأكل قال ثم قال لي اذهب فادع لي معاوية قال فجئت فقلت هو يأكل فقال لا أشبع الله بطنه

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutsanna Al ‘Anziy dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Basyaar [dan lafaz ini adalah lafaz Ibnu Mutsanna] keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Umayyah bin Khalid yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Hamzah Al Qashaab dari Ibnu Abbas yang berkata “aku bermain bersama anak-anak kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang, aku bersembunyi di belakang pintu. Beliau datang dan menepuk pundakku seraya berkata “pergi dan panggilkan Muawiyah kepadaku”. Maka aku kembali dan berkata “ia sedang makan”. Kemudian Beliau berkata “pergi dan panggilkan Muawiyah kepadaku”. Maka aku kembali kepada Beliau dan berkata “ia sedang makan”. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya” [Shahih Muslim 4/2010 no 2604]

3. Di laknat Rasulullah secara terang-terngan

Terdapat hadis shahih yang menunjukkan kalau Muawiyah bin Abu Sufyan adalah salah seorang yang dilaknat oleh Allah SWT. Hal ini diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sanad yang jayyid.

حدثنا خلف حدثنا عبد الوارث بن سعيد بن جمهان عن سفينة مولى أم سلمة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان جالساً فمر أبو سفيان على بعير ومعه معاوية وأخ له أحدهما يوقود البعير والآخر يسوقه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعن الله الحامل والمحمول والقائد والسائق

Telah menceritakan kepada kami Khalaf yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Waarits dari Sa’id bin Jumhan dari Safinah mawla Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk kemudian melintaslah Abu Sufyan di atas hewan tunggangan dan bersamanya ada Muawiyah dan saudaranya, salah satu dari mereka menuntun hewan tunggangan tersebut dan yang lainnya menggiringnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “laknat Allah bagi yang memikul dan yang dipikul, yang menuntun dan yang menggiring”[Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 2/121]

Dalam hadis di atas tertulis ‘Abdul Warits bin Sa’id bin Jumhan, ini adalah tashif yang benar adalah ‘Abdul Warits ‘an Sa’id bin Jumhan. Karena telah ma’ruf kalau yang meriwayatkan dari Safinah adalah Sa’id bin Jumhan dan yang meriwayatkan dari Sa’id bin Jumhan adalah ‘Abdul Warits yaitu ‘Abdul Warits bin Sa’id bin Dzakwan.

  • Dalam biografi Sa’id bin Jumhan Al Aslamiy disebutkan kalau ia meriwayatkan dari Safinah dan telah meriwayatkan darinya ‘Abdul Warits bin Sa’id [Tahdzib Al Kamal 10/376 no 2246]
  • Dalam biografi ‘Abdul Warits bin Sa’id bin Dzakwan disebutkan kalau ia meriwayatkan dari Sa’id bin Jumhan Al Aslamiy [Tahdzib Al Kamal 18/478 no 3595]

Hadis ‘Abdul Warits dari Sa’id bin Jumhan dari Safinah telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya dan Nasa’i dalam kitab Sunan-nya dengan sanad berikut

حدثنا مسدد بن مسرهد قال ثنا عبد الوارث عن سعيد بن جمهان عن سفينة قال

Telah menceritakan kepada kami Musaddad bin Musarhad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits dari Sa’id bin Jumhan dari Safinah yang berkata –al hadits- [Sunan Abu Dawud 2/416 no 3932]

أخبرنا قتيبة بن سعيد قال ثنا عبد الوارث عن سعيد بن جمهان عن سفينة قال

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits dari Sa’id bin Jumhan dari Safinah yang berkata –al hadits- [Sunan Nasa’i 3/190 no 4995]

Al Baladzuri termasuk ulama besar, Adz Dzahabi menuliskan keterangan tentang Al Baladzuri dalam kitabnya As Siyar dan Tadzkirah Al Huffazh. Adz Dzahabi menyebut ia seorang penulis Tarikh yang masyhur satu thabaqat dengan Abu Dawud, seorangHafizh Akhbari Allamah [Tadzkirah Al Huffazh 3/893]. Di sisi Adz Dzahabi penyebutan hafizh termasuk ta’dil yaitu lafaz ta’dil tingkat pertama. Disebutkan Ash Shafadi kalauAl Baladzuri seorang yang alim dan mutqin [Al Wafi bi Al Wafayat 3/104]. Tidak ada alasan untuk menolak atau meragukan Al Baladzuri, Ibnu Hajar telah berhujjah dengan riwayat-riwayat Al Baladzuri dalam kitabnya diantaranya dalam Al Ishabah, Ibnu Hajar pernah berkata “dan diriwayatkan oleh Al Baladzuri dengan sanad yang la ba’sa bihi” [Al Ishabah 2/98 no 1767]. Penghukuman sanad la ba’sa bihi oleh Ibnu Hajar berarti ia sendiri berhujjah dan menta’dil Al Baladzuri. Soal kedekatan kepada penguasa itu tidaklah merusak hadisnya karena banyak para ulama yang dikenal dekat dengan penguasa tetapi tetap dijadikan hujjah seperti Az Zuhri dan yang lainnya. Para ulama baik dahulu maupun sekarang tetap menjadikan kitab Al Balazuri sebagai sumber rujukan baik sirah ansab maupun hadis.

Riwayat Al Baladzuri di atas terdiri dari para perawi tsiqat dimulai dari Khalaf syaikh [guru] Al Baladzuri adalah Khalaf bin Hisyam Al Bazzar, ‘Abdul Warits bin Sa’id bin Dzakwan dan Sa’id bin Jumhan Al Aslamiy. Sedangkan Safinah mawla Ummu Salamah yang juga dikenal mawla Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah sahabat Nabi.

  • Khalaf bin Hisyam Al Bazzar adalah perawi Muslim dan Abu Dawud. Disebutkan bahwa diantara yang meriwayatkan darinya adalah Ahmad bin Yahya bin Jabir Al Baladzuri. Imam Muslim juga meriwayatkan darinya itu artinya ia tsiqat menurut Muslim. Ahmad bin Hanbal dan Nasa’i menyatakan tsiqat. Daruquthni berkata ahli ibadah yang memiliki keutamaan. Ibnu Hibban berkata “baik, memiliki keutamaan, alim dalam qiraat dan telah menulis darinya Ahmad bin Hanbal” [At Tahdzib juz 3 no 297]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/272]. Al Khalili menyatakan ia disepakati tsiqat [Al Irshad 1/95]
  • ‘Abdul Warits bin Sa’id bin Dzakwan adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in, Al Ijli dan Ibnu Numair menyatakan ia tsiqat. Abu Hatim menyatakan ia shaduq. Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat hujjah”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “mutqin dalam hadis”. [At Tahdzib juz 6 no 826]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 1/625].
  • Sa’id bin Jumhan Al Aslamiy adalah perawi Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “ditulis hadisnya tetapi tidak dijadikan hujjah”. Abu Dawud menyatakan ia tsiqat. Ahmad bin Hanbal menyatakan ia tsiqat. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. As Saji berkata “tidak diikuti hadisnya” [At Tahdzib juz 4 no 15]. Yaqub bin Sufyan Al Fasawi menyatakan ia tsiqat [Al Ma’rifat Wal Tarikh 2/182]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq dan memiliki riwayat yang menyendiri, tetapi pernyataan ini dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau Sa’id bin Jumhan seorang yang tsiqat [Tahrir At Taqrib no 2279].

Jadi riwayat ini memiliki sanad yang shahih dan menunjukkan kalau Mu’awiyah adalah salah seorang yang dilaknat oleh Allah SWT. Apapun alasannya, kami tidak bisa memastikan tetapi jika melihat bagaimana pribadi Mu’awiyah dan pemerintahan yang dipimpin olehnya maka riwayat ini tidaklah mengherankan. Cukup banyak penyimpangan yang dilakukan Mu’awiyah diketahui oleh mereka yang mengetahuinya dan dibela mati-matian oleh mereka yang mencintai Muawiyah. Bagi yang ingin melihat berbagai penyimpangan Muawiyah, dipersilahkan untuk melihat tulisan kami yang lain tentang Muawiyah. Akhir kata jika ada yang tidak setuju cukuplah sampaikan bantahan dan tidak perlu mencela kami. Kami tidak tertarik main tuduh-menuduh cela mencela, kalau kami keliru silakan dikoreksi tetapi kalau tidak mampu maka cukuplah berdiam diri. Salam Damai

Benarkah Muawiyah Menangisi Kematian Imam Ali?

Anti Wahabi

Ada trend basi di kalangan pengikut nashibi …..

Riwayat yang mereka jadikan hujjah adalah riwayat dhaif bahkan sebagian sanadnya dhaif jiddan atau maudhu’

Sudah kehabisan hujjah/dalil mengais-ngais di tempat sampah pun mereka lakukan demi sang idola Muawiyah Pengajak orang ke neraka (versi Rasul saw) dan Imam yang memberi petunjuk versi Nashibi wahabi/salafy

Nashibi apapun dilakukan demi keyakinannya yang bathil… apapun mereka lakukan mulai memalsu,memalsu blog bahkan memalsu kitab2 rujukan, memelintir hadis dan ayat al Qur’an… tanpa malu dan tanpa takut azab Allah SWT

Ada trend basi di kalangan pengikut nashibi yaitu mereka menggebu gebu ingin membuktikan kemesraan hubungan antara Muawiyah dan Imam Ali. Di antara hujjah mereka yang paling banyak dikutip adalah Muawiyah menangis dan bersedih atas kematian Imam Ali. Tentu saja tujuan mereka bukan untuk mengutamakan Imam Ali tetapi untuk mengangkat keutamaan Muawiyah dan untuk menghapus fakta bahwa Muawiyah termasuk yang mencaci Imam Ali.

Riwayat yang mereka jadikan hujjah adalah riwayat dhaif bahkan sebagian sanadnya dhaif jiddan atau maudhu’. Sangat mengagumkan, nashibi yang biasa mencela syiah [yang kata mereka banyak mengutip riwayat dhaif dan palsu] ternyata malah mereka yang suka berhujjah dengan riwayat dhaif. Betapa munafiknya kalian wahai nashibi.

وقال جرير بن عبد الحميد ، عن مغيرة قال : لما جاء خبر قتل علي إلى معاوية جعل يبكي ، فقالت له امرأته : أتبكيه وقد قاتلته ؟ فقال : ويحك ! إنك لا تدرين ما فقد الناس من الفضل والفقه والعلم

Jarir bin ‘Abdul Hamiid berkata dari Mughirah yang berkata “ketika kabar terbunuhnya Ali sampai kepada Muawiyah, maka ia menangis. Kemudian istrinya berkata “engkau menangisinya padahal engkau memeranginya”. Muawiyah berkata “celaka engkau, engkau tidak mengetahui bahwa orang-orang telah kehilangan seorang yang utama, faqih dan alim [Al Bidayah Wan Nihayah Ibnu Katsir 11/429]

Riwayat ini dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wan Nihayah dan diikuti oleh para nashibi untuk dijadikan hujjah. Jika mereka tidak malas dan bukan pemalas maka sangat mudah untuk mengetahui sumber riwayat tersebut. Riwayat Mughirah yang dinukil Ibnu Katsir itu disebutkan dengan sanad yang lengkap oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya.

أخبرنا أبو محمد طاهر بن سهل أنا أبو الحسن بن صصرى إجازة نا أبو منصور العماري نا أبو القاسم السقطي نا إسحاق السوسي حدثني سعيد بن المفضل نا عبد الله ابن هاشم عن علي بن عبد الله عن جرير بن عبد الحميد عن مغيرة قال لما جاء قتل علي إلى معاوية جعل يبكي ويسترجع فقالت له امرأته تبكي عليه وقد كنت تقاتله فقال لها ويحك إنك لا تدرين ما فقد الناس من الفضل والفقه والعلم

Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Thaahir bin Sahl yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasan bin Shashraa telah menceritakan kepada kami Abu Manshur Al ‘Ammaariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Qaasim As Saqathiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaq As Suusiy yang berkata telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Mufadhdhal yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Haasyim dari ‘Ali bin ‘Abdullah dari Jarir bin ‘Abdul Hamiid dari Mughirah yang berkata “ketika kabar terbunuhnya Ali sampai kepada Muawiyah maka ia menangis dan mengucapkan istirja’. Istrinya berkata “engkau menangisinya padahal engkau dahulu memeranginya”. Muawiyah berkata kepada istrinya “celaka engkau, engkau tidak mengetahui bahwa orang-orang telah kehilangan orang yang utama, faqih dan alim[Tarikh Ibnu Asakir 59/142]

Riwayat Mughirah dengan lafaz ini adalah maudhu’ karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang tertuduh memalsu hadis, perawi yang majhul dan riwayat Mughirah tersebut sanadnya terputus [mursal].

  • Ishaq As Suusiy adalah Ishaq bin Muhammad bin Ishaq As Suusiy. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam Lisan Al Mizan dan menyatakan ia membawakan riwayat riwayat palsu tentang keutamaan Muawiyah, ia tertuduh karenanya atau para syaikhnya yang majhul [Lisan Al Mizan juz 1 no 1159]. Hal yang sama juga disebutkan oleh Abul Wafa’ dalam Kasyf Al Hatsiits [Kasyf Al Hatsiits no 124]
  • Sa’id bin Mufadhdhal yaitu syaikh [guru] Ishaq As Suusiy tidak ditemukan keterangan biorafinya sehingga ia tidak dikenal kredibilitasnya atau majhul
  • Mughirah bin Miqsaam adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat wafat tahun 136 H termasuk perawi thabaqat keenam [At Taqrib 2/208]. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa perawi thabaqat keenam tidaklah bertemu satu orang sahabatpun maka riwayat Mughirah tentang perkataan Muawiyah tersebut adalah mursal.

Riwayat Mughirah bin Miqsam yang serupa juga disebutkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Maqtal Aliy no 106 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 42/582-583 dengan jalan sanad dari Yusuf bin Musa dari Jarir dari Mughirah. Status riwayat Mughirah ini adalah dhaif karena Mughirah bin Miqsam tidak bertemu dengan Muawiyah alias mursal. Setelah melihat kualitas riwayat yang menjadi hujjah kaum nashibi maka cukuplah menjadi bukti bahwa nashibi itu adalah orang-orang munafik. Mereka mencela orang lain padahal mereka sendiri sangat tercela. Semoga Allah SWT melindungi kita semua dari nashibi munafik.

Note : berikut contoh nashibi yang mengutip atau berhujjah dengan riwayat palsu yang dinukil Ibnu Katsir [penulis pernah berdiskusi secara tidak langsung atau melalui perantara dengan para nashibi ini]

  1. Orang yang menyebut dirinya “Tripoly Sunni” yang dapat anda lihat disinihttp://www.sunniforum.com/forum/archive/index.php/t-69443.html
  2. Orang yang menyebut dirinya “swords of sunnah” yang dapat anda lihat dalam salah satu tulisannya disinihttp://youpuncturedtheark.wordpress.com/2011/03/02/part-9-nature-of-relationship-between-ahlebaytra-and-muawiyara/

Kedua nashibi aneh ini dalam diskusi suka merendahkan argumen lawan diskusi yang mereka tuduh syiah seperti dengan kata kata “munafik” atau “stupid”. Ternyata kualitas mereka sendiri tidak jauh dari perkataan yang mereka katakan itu

Sumber:http://syiahali.wordpress.com/2011/11/04/benarkah-muawiyah-menangisi-kematian-imam-ali/

“Realisasi Iman Dalam Kehidupan Sosial”

Hadits

I.                  Pendahuluan

Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT sebagai syahidan, mubasysyiran, dan nadziron[1] bagi segenap manusia. Ajaran Islam ad-Din al-Haq yang dibawanya kesemua dasarnya adalah wahyu Allah SWT dalam Al-Qur’an . Sebagai seorang uswat al-Hasanah beliau SAW adalah penyampai, penafsir, dan penjelas firman-firman Allah dalam Al-Qur’an lewat qoul beliau, fi’liyah beliau, dan taqrir beliau SAW.

Islam adalah Rahmat li al-‘Alamin, di dalam ajaran-ajarannya terkandung nilai-nilai cinta kasih yang telah nyata dicontohkan oleh baginda Muhammad SAW lewat akhlak mulia beliau.  Berikut ini adalah sedikit pembahasan berkaitan dengan realisasi iman dalam kehidupan sosial berdasarkan uswah Rasulullah SAW dalam sunah beliau SAW.

 

II.                        Pembahasan

A.               Cinta sesama muslim adalah sebagian dari kesempurnaan Iman

Cinta adalah sesuatu yang niscaya ada dalam peri kehidupan makhluk berakal seperti manusia baik berbangsa, bernegara, maupun dalam kehidupan beragama. Rasulullah SAW sebagai suri tauladan agung bagi manusia telah menjelaskan tentang betapa pentingnya cinta dan kasih sayang terhadap sesama insan dalam hadits berikut ini:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَِخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه ِ)رواه البخاري ومسلم وأحمد والنسائى([2]

.Artinya: “Musaddad telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Yahya telah menceritakan kepada kami dari Syu’bah dari Qatadah dari Anas r.a berkata bahwa Nabi saw. telah bersabda : “Tidaklah termasuk beriman seseorang di antara kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasa’i)

Hadis di atas menegaskan bahwa di antara ciri kesempurnaan iman seseorang adalah bahwa ia mencintai sesamanya seperti mencintai dirinya sendiri. Kecintaan yang dimaksudkan di sini termasuk di dalam rasa bahagia jika melihat sesamanya muslim mendapatkan kebaikan yang ia senangi, dan tidak senang jika sesamanya muslim mendapat kesulitan dan musibah yang ia sendiri membencinya. Ketiadaan sifat seperti itu menurut hadis di atas menunjukkan kurang atau lemahnya tingkat keimanan seseorang.

Hadis di atas tidaklah berarti bahwa seorang mu’min yang tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya berarti tidak beriman sama sekali. Pernyataan ُ أَحَدُكُمْ يُؤْمِنَ  لا pada hadis di atas mengandung makna “tidak sempurna keimanan seseorang” jika tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Jadi, harf nafi لا pada hadis tersebut bermakna ketidaksempurnaan buka ketidakberimanan.

Prinsip tersebut mengantar kita untuk ikut merasakan apa yang dirasakan oleh saudara sesama muslim yang dalam hadis lain diibaratkan sebagai satu bangunan.

B. Ciri-ciri Seorang Muslim yang Tidak Mengganggu Orang Lain

Seorang muslim yang baik keislamannya adalah orang yang tidak mengganggu orang lain. Artinya setiap gerak dan tingkah lakunya adalah tidak menghalangi hak-hak orang lain, lebih-lebih sampai mendzaliminya. Rasulullah menjelaskan dalam hadisnya sebagai berikut:

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي السَّفَرِ وَإِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْه. ُ) رواه البخاري وأبوداودوالنسا ئى(

Artinya :Adam bin Abi Isa telah mengabarkan kepada kami, ia berkata bahwa Syu’bah telah mengabarkan kepada kami dari ‘Abdullah bin Abi al-Saffar dan Isma’il bin Abi Khalid dari al-Sya’biy dari ‘Abdullah bin Umar r.a. berkata bahwa Nabi SAW. telah bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang orang-orang Islam (yang lain) selamat dari lisan dan tangannya dan orang yang berhijrah adalah orang yang hijrah dari apa yang telah dilarang Allah SWT. (H.R. Bukhori , Muslim dan Ahmad) [3]

Pesan pertama yang tekandung dalam hadis di atas adalah memberi motivasi agar umat Islam senantiasa berlaku baik terhadap sesamanya muslim dan tidak menyakitinya, baik secara fisik maupun hati. Mengingat pentingnya hubungan baik dengan sesama muslim, maka Rasulullah saw. menggambarkannya sebagai ciri tingkat keislaman seseorang. Orang yang tidak memberikan rasa tenang dan nyaman terhadap sesamanya muslim dikategorikan orang muslim sejati. Inilah ciri-ciri muslim yang tidak mengganggu orang lain

Oleh sebab itu, seorang muslim yang sejati harus mampu menjaga dirinya sehingga orang lain selamat dari kezaliman atau perbuatan jelek tangan dan mulutnya. Dengan kata lain, ia harus berusaha agar saudaranya sesama muslim tidak merasa disakiti oleh tangannya, baik fisik seperti dengan memukulnya, merusak harta bendanya, dan lain-lain ataupun dengan lisannya.

Pesan Kedua , secara tekstual hadis di atas menyebutkan bahwa hijrah yang sesungguhnya adalah meninggalkan apa yang dimurkai Allah swt. Pengertian itu pulalah yang terkandung dalam hijrah Rasulullah saw., yaitu meninggalkan tanah tumpah darahnya karena mencari daerah aman yang dapat menjamin terlaksananya ketaatan kepada Allah swt. Oleh sebab itu, orang yang meninggalkan kampung halaman dan berpindah ke daerah yang tidak ada jaminan bagi terlaksananya ketaatan kepada Allah tidak termasuk dalam pengertian hijrah dalam pengertian syariat, meskipun secara bahasa mengandung pengertian tersebut.

C. Realisasi Iman Dalam Menghadapi Tamu, Tetangga, dan Bertutur Kata

Seperti telah disebutkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Talib K.w. : “Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota”. Konsekuensi bagi orang yang mengaku dirinya telah beriman Kepada Allah SWT, adalah keharusan untuk membuktikan keimanannya kepada Allah SWT. Rasulullah menyinggung hal ini dalam hadis berikut:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو الأَحْوَصِ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ  ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ )رواه البخارى(  [4]

Artinya : Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami, Abu al-Ahwash telah menceritakan kepada kami, dari Abu Hashin, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: Rasulullah saw. telah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya; barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berbuat baik kepada tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis di atas menyebutkan tiga di antara sekian banyak ciri dan sekaligus konsekuensi dari pengakuan keimanan seseorang kepada Allah swt. dan hari akhirat. Ciri – cirri orang beriman yang disebutkan dalam hadis di atas, adakalanya terkait dengan hak-hak Allah swt., yaitu melaksanakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan, seperti diam atau berkata baik, dan adakalanya terkait dengan hak-hak hamba-Nya, seperti tidak menyakiti tetangga dan memuliakan tamu.

  1.  Memuliakan Tamu

Yang dimaksud dengan memuliakan tamu adalah memperbaiki pelayanan terhadap mereka sebaik mungkin. Pelayanan yang baik tentu saja dilakukan berdasarkan kemampuan dan tidak memaksakan di luar dari kemampuan. Dalam sejumlah hadis dijelaskan bahwa batas kewajiban memuliakan tamu adalah tiga hari tiga malam. Pelayanan lebih dari tiga hari tersebut termasuk sedekah. Hal itu didasarkan pada sabda Rasulullah saw.:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْعَدَوِيِّ أَنَّهُ قَالَ سَمِعَتْ أُذُنَايَ وَأَبْصَرَتْ عَيْنَايَ حِينَ تَكَلَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ قَالُوا وَمَا جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يَوْمُهُ وَلَيْلَتُهُ وَالضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْه ) متفق عـليه(

Artinya : “Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami, Laits telah menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Abi Sa’id, dari Abi Syuraih al-’Adawiy, berkata, Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, ia harus menghormati tamunya dalam batas kewajibannya. Sahabat bertanya, “yang manakah yang masuk batas kewajiban itu ya Rasulullah? Nabi menjawab, batas kewajiban memuliakan tamu itu tiga hari tiga malam, sedangkan selebihnya adalah shadaqah.” (Mutafaq Alaih)

Jika ketentuan-ketentuan seperti disebutkan di atas dilaksanakan oleh segenap umat Islam, maka dengan sendirinya terjalin keharmonisan di kalangan umat Islam. Keharmonisan di antara umat Islam merupakan modal utama dalam menciptakan masyarakat yang aman dan damai.

  1.  Memuliakan Tetangga

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi SAW. menggambarkan pentingnya memuliakan tetangga sebagai berikut:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُه

Artinya : Isma’il bin Abi Uways telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Malik telah menceritakan kepadaku, dari Yahya bin Sa’id, ia berkata Abu Bakr bin Muhammad telah mengabarkan kepadaku dari ‘Amrah, dari ‘A’isyah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda: “Malaikat Jibril senantiasa berwasiat kepadaku (untuk memuliakan) tetangga sehingga aku menyangka bahwa Jibril akan memberi keada tetangga hak waris.(H.R.Bukhori)

  1.  Berbicara Baik atau Diam

Orang yang menahan banyak berbicara kecuali dalam hal-hal baik, lebih banyak terhindar dari dosa dan kejelekan, daripada orang yang banyak berbicara tanpa membedakan hal yang pantas dibicarakan dan yang tidak pantas dibicarakan. Sehubungan dengan hal ini Rasulullah SAW. bersabda:

َوَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلصَّمْتُ حِكْمَةٌ وَقَلِيلٌ فَاعِلُهُ )  أَخْرَجَهُ اَلْبَيْهَقِيُّ فِي اَلشُّعَبِ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ وَصَحَّحَ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ مِنْ قَوْلِ لُقْمَانَ اَلْحَكِيمِ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Diam itu bijaksana namun sedikit orang yang melakukannya. Riwayat Baihaqi dalam kitab Syu’ab dengan sanad lemah dan ia menilainya mauquf pada ucapan Luqman Hakim. [5]

III.                Penutup

Sebagai sosok tauladan umatnya, Rasulullah SAW membuktikan kesempurnaan keimanannya dengan selalu berbuat sesuai dengan apa yang Allah SWT wahyukan pada beliau SAW. Maka tirulah beliau dengan menjalankan sunnahnya, agar sempurna keimanan kita. Dalam sebuah hadist Rasulullah berdo’a : “Ya Allah sebagaimana Engkau telah memperindah kejadianku maka perindahlah perangaiku.”[6] Wallahu a’lam.

Daftar Pustaka

Terjemah Hadits Arba’in An-Nawawiyah  “, Di terjemahkan oleh : Aminah Abd. Dahlan, PT.Al-Ma’arif , Bandung

 “Terjemah Hadits Shahh Muslim Jilid 1”, Diterjemahkan oleh : Ma’mur Daud, Widjaya, Jakarta,1986

Bulughul Maram min Adilatil Ahkam”, Al-Hafidh Imam Ibnu Hajar al-Asqalany, Pustaka Hidayah,2008


[1] Al-Qur’an Surat Al-Fath : 8

[2] Arba’in Nawawi, Syarah Ibnu Daqiqil, Hadits No. 13 , Bulughul Maram ,Hadits No. 1487dan dalam Shohih Muslim Hadist No.36

[3] Shahih Muslim Hadist No.33

[4] Shahih Al-Bukhari Hadist no. 6018 dan Shahih  Muslim hadist no. 39

[5]Bulughul Maram  min Adilatil Ahkam”, Al-Hafidh Imam Ibnu Hajar al-Asqalany, Hadits No. 1507

[6] Ibid , Hadits No. 1566


Resensi buku “Etika Dasar : Masalah-masalah pokok Filsafat Moral” Dr.Franz Magnis Suseno

Uncategorized

I.                   Pendahuluan

            Buku yang berjudul “Etika Dasar : Masalah-masalah pokok Filsafat Moralkarya Dr.Franz Magnis Suseno ini adalah penulisan kembali dan sedikit revisi dari bukunya yang berjudul “Etika Umum”. Mengutip pernyataan beliau dalam Prakata , “Tujuan buku ini : menjadi alat orientasi … menyediakan sarana-sarana teoritis agar pembaca sendiri dapat menghadapi masalah-masalah moral yang muncul dengan lebih positif, kritis dan mantap.”

Dalam buku ini terdapat sepuluh bab , antara lain:

Bab 1   : Untuk Apa Beretika?

Bab 2   : Apa itu Kebebasan?

Bab 3   : Tanggung jawab dan Kebebasan

Bab 4   : Suara Hati

Bab 5   : Mempertanggungjawabkan Suara Hati

Bab 6   : Mengembangkan Suara Hati

Bab 7   : Tolak Ukur Pertanggungjawaban Moral

Bab 8   : Menuju Kebahagiaan

Bab 9   : Prinsip-prinsip Moral Dasar

Bab 10: Sikap-sikap Kepribadian yang Kuat

Mengingat tulisan ini adalah resensi, dalam tulisan ini saya memadatkan dari sepuluh bab ini kedalam tiga bagian, sesuai dengan pembagian yang penulis juga paparkan dalam bukunya : Bagian pertama : Kebebasan dan tanggung jawab, Bagian kedua : Kesadaran Moral, dan Bagian ketiga : Etika Normatif.

 

 

 

II.                Pembahasan

 

Bagian pertama : Kebebasan dan tanggung jawab

A.                 Kebebasan

Etika yang menjadi pokok bahasan buku ini dapat dipandang sebagai sarana orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab suatu pertanyaan yang sangat fundamental : bagaimana saya harus hidup dan bertindak?. Ditengah banyaknya jawaban yang dipaparkan berkaitan dengan pertanyaan ini, etika membantu kita agar kita mengerti sendiri mengapa kita harus bersikap begini atau begitu. Etika membantu kita agar kita lebih bertanggung jawab. Ada dua bentuk kebebasan yang dibedakan dalam buku ini :

1.               Kebebasan Eksistensial

Kemampuan untuk menentukan diri sendiri yang dimiliki tiap-tiap manusia ini disebut kebebasan eksistensial. Bertindak begini atau begitu secara sengaja adalah wujud positif dari kesanggupan kita dalam menentukan tindakan kita sendiri, ia adalah wujud dari kebebasan. Dalam hal ini sebuah kegiatan manusia menjadikan kesengajaan , maksud dan tujuan tertentu , serta kesadaran bahwa tergantung pada kitalah apakah kegiatan itu kita lakukan atau tidak sebagai syarat-syarat disebut tindakan.

 

Dari sini dapat kita ketahui bahwa tidak semua kegiatan manusia adalah tindakan. Denyut jantung, mata yang berkedip , pernafasan bukanlah merupakan tindakan , karena berjalan tanpa disengaja, tanpa kesadaran apakah kegiatan itu kita lakukan atau tidak.

 

Jadi kebebasan eksistensial adalah kemampuan untuk menentukan tindakannya sendiri. Kemampun itu bersumber pada kemampuan manusia untuk berfikir dan berkehendak dan terwujud dalam tindakan.

 

Artinya kebebasan ekstensial berakar pada kemampuan penguasaan  manusia terhadap fikiran , kehendaknya , terhadap batinnya yang kemudian akan diwujudkan dalam dimensi lahiriah. Kemampuan ini disebut sebagai kebebasan Rohani. Sedangkan kemampuan manusia untuk menggerakkan tubuhnya sesuai dengan kehendaknya , dan tentunya masih dalam batas-batas kodratnya sebagai manusia disebut kebebasan jasmani.

 

Antara kebebasan jasmani dan kebebasan rohani terdapat hubungan yang sangat  erat. Dapat dikatakan bahwa tindakan adalah suatu kehendak (bukan insting seperti hewan)  yang menjelma dan menjadi nyata, dan kehendak adalah permulaan tindakan.

2.               Kebebasan Sosial

Kebebasan eksistensial hanya dapat bergerak sejauh manusia lain tidak menghalang-halanginya. Dengan kata lain, kebebasan eksistensial manusia adalah kebebasan dari pembatasan oleh niat atau kehendak manusia lain. Kebebasan jasmani dibatasi dengan paksaan secara fisik, kebebasan Rohani walaupun tidak dapat dibatasi secara langsung  dapat dikurangi melalui tekanan psikis . Kemudian manusia juga memiliki pembatasan lain yaitu perintah (pewajiban) dan larangan yang apabila kita bebas dari itu disebut kebebasan normatif. Ketiga sudut kebebasan ini disebut kebebasan sosial. Jadi kebebasan sosial adalah keadaan dimana kemungkinan kita untuk bertindak tidak dibatasi dengan sengaja oleh orang lain.

 

B.                 Kebebasan Sosial, Kebebasan Eksistensial dan Tanggung Jawab

Sebagai makhluk sosial yang memilki kebebasan sosial dan hidup bersama dalam dunia sosial yang terbatas, sudah jelas bahwa manusia harus menerima bahwa masyarakat membatasi kesewenangannya. Jadi kebebasan sosial kita terbatas dengan sendirinya. Namun perlu diketahui juga bahwa masyarakat tidak boleh mengadakan pembatasan yang sewenang-wenang dengan motif sebagai usaha untuk menjamin kebebasan dan hak serta kepentingan wajar seluruh warga masyarakat dan harus normatif. Suatu pembatasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan , tidak dapat dibenarkan.

Kebebasan eksistensial berarti bahwa bagaimanapun kita harus mengambil sikap , dan kitalah yang bertanggung jawab atas sikap dan tindakan kita dan bukan masyarakat. Sikap yang kita ambil secara bebas hanya memadai apabila sesuai dengan tanggung jawab objektif itu. Semakin berkembang kebebasan eksistensial manusia , semakin kuat pula pribadinya untuk bersedia bertanggung jawab. Setiap sikap yang kita ambil tidak berada dalam ruang kosong, namun meniscayakan adanya tanggung jawab kita sebagai pelakunya.

Sebaliknya, semakin orang menolak untuk bertanggung jawab, semakin sempit dan lemah pula kepribadiannya, jadi semakin berkurang juga kebebasannya untuk menentukan dirinya sendiri.

Kebebasan eksistensial yang bertanggungjawab menyatakan diri dalam pola moralitas yang otonom. Manusia bermoralitas otonom melakukan kewajiban dan tanggungjawabnya bukan karena takut (seakan ada paksaan) , atau merasa tertekan (psikisnya), melainkan ia sadar sendiri, jadi menyadari nilai dan makna serta perlunya kewajiban dan tanggung jawab itu

Bagian kedua : Kesadaran Moral

 A.                             Suara Hati

Dalam bagian sebelumnya nampak bahwa disatu sisi kebebasan eksistensial menuntut adanya otonomi moral. Dan disisi lain kebebasan sosial dapat dibatasi oleh masyarakat. Bertolak dari dua kenyataan itu, dalam berhadapan dengan masyarakat suara hati kita menyatakan diri.

Suara hati adalah kesadaran moral kita dalam situasi konkret. Di dalam pusat hati kita yang disebut hati , kita sadar apa yang sebanarnay dituntut dri kita. Meskipun banyak fihak yang mengatakan kepada kita apa yang wajibdilakukan , tetapi dalam hati kita sadra bahwa akhirnya hanya kitalah yang mengetahuinya. Jadi bahwa kota berhak dan juga wajib untuk hidup sesuai dengan apa yang kita sadari sebagai kewajiban dan tanggung jawab itu.

Yang harus pertama-tama kita sadari dalam suara hati adalah : suara hati harus selalu ditaati. Kesadaran ini termasuk inti suara hati sendiri. Tandanya ialah bahwa kita merasa bersalah apabila kita mengelak dari suara hati. Meskipun  suara hati kita dapat keliru, namun kita Harus selalu taat padanya, karena suara hati adalah kesadarn kita yang langsung tetntang apa yanng menjadi kewajiban kita..

Suara hati adalah pangkal otonomi manusia , pusat kemandiriannya, unsur yang tidak mengizinkan manusia menjadi pengekor yang mudah digiring menurut pendapat orang lain.

Yang dilakukan suara hati adalah memberikan sebuah penilain-penilaian moral. Ia bukan sekedar masalah perasaan semata dan selalu berlaku umum. Dan karena suara hati adalh bukan masalah perasaan belaka, dan karena suara hati memiliki mengklaim rasionalitas dan objektifitas, maka ia harus dipertanggng jawabkan.

Namun tidak berarti bahwa dengan rasionalitasnya , suara hati  dan segenap pandangan moralnya harus dibuktikan terlebih dahulu, melainkan kita harus terbuka bagi setiap argumen , sangkaln, pertanyaan, dan keragu-raguan dari orang lain atau bahkan dari hati kita sendiri.

 

B.                             Mengembangkan Suara Hati

Dalam etika dikatakan bahwa kesatuan faham moral hanya dapat tercapai apabila kita bersedia untuk menenmpati “titik pangkal moral”. Dengan titik pangkal moral dimaksudkan agar orang harus bersedia dulu untuk mengambil sikap moral, baru tercapailah dasar untuk bersama-sama mencari penilaian yang tepat . Mengambil titik pangkal moral seperti itu hanya mungkin bagi orang yang memilki kepribadian yang kuat dan matang.

 

Untuk mencapai kematangan itu, kita harus berusaha dalam dimensi kognitif dan afektif. Dalam dimensi kognitif kita harus berusaha agar suara hati memberikan penilaian-penilaiannya berdasarkan pengertian yang tepat. Atau dengan kata lain, kita harus “mendidik” suara hati.

 

Mendidik suara hati berarti kita harus selalu mau belajar, mau memahami pertimbangan-pertimbangan etis yang tepat dan seperlunya memperbaharui pandangan-pandangan kita.Jadi yang diperlukan dalam mendidik segi kognitif suara hati adalah keterbukaan.

 

Selanjutnya, tentang bagaimana kesanggupan kita untuk selalu bertindak sesuai dengan suara hati dapat dikembangkan dri segi afektif atau volitif. Manusia tidak dapat menjadi dirinya sendiri kecuali ia menjadi sepi ing pamrih, bebas dari penguasaan oleh kekuatan-kekuatan irrasional (nafsu) dan segala macam emosi atau dalam bahasa jawanya pamrih . Manusia bebas dari pamrih tidak perlu gelisah akan dirinya sendiri, ia mengontrol nafsu-nafsu an emosi-emosinya. Karena ia sepi ing pamrih, ia akan semakin rame ing gawe, artinya semakin sanggup memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya.

 

C.                 Suara Hati dan Super  Ego

Istilah super ego dan suara hati sering disama artikan dalam pandangan masyarakat. Sebenarnya ada unsur-unsur dalam suara hati yang tidak sesuai dengan superego.

Suara hati itu bicara karena mengerti apa yang secara objektif merupakan tanggung jawab dan kewajiban objektif merupakan tindakan yang paling bernilai bagi manusia.Unsur pengertian yang disertai faham tentang nilai tindakan yang diharuskan, kesadaran bahwa memang sudah semestinya kalau saya bertindak demikian, itulah yang khas bagi suara hati.

Sedangkan superego hanya menekan, menegur,tidak memperdulikan tepat-tidaknya tindakan dari sudut tanggung jawab. Superego bersifat otomatis, tidak kaku , melainkan berpedoman pada kesadaran nilai. Ia berdiri selau tidak lepas dari kesadaran nilai ego. Oleh karena itu, dapat saja terjadi bahwa orang justru akan melanggar kewajibannya apabila ia mengikuti superegonya apabila ia lepas dari kesadaran nilai egonya. Kesadaran moral menuntut agar kita justru kritis terhadap superego kita sendiri.

 

Kesadaran moral yang dewasa , matang atau otonom adalah kesadaran yang ditentukan oleh kesadaran nilai ego. Ego adalah “aku” yang sadar, subjektivitas kita, pusat kesadaran dan keunginan kita. Ego adalah kedirian kita yang merasakan, mengambil keputusan menghendaki, dan bertindak.

 

Maka merupakan ciri orang yang kesadaran moralnya dewasa, bahwa superegonya selalu menyesuaikan diri dengan apa yang dinilainya tepat. Itulah orang yang terbuka terhadap yang baru dan yang akan bertindak berdasarkan tanggung jawabnya yang nyata.

 

Bagian ketiga : Etika Normatif

 A.                             Manakah Tolak Ukur Pertanggungjawaban Moral?

Kewajiban moral kita sadari sebagai sesuatu yang mengikat dengan mutlak , tetapi sekaligus adanya keharusan kita untuk mempertanggungjawabkan pendpat kita tentang kewajiban moral secara rasional.

 

Tetapi apa artinya mempertanggungjawabkan? Mempertanggungjawabkan sesuatu berarti bahwa kita dapat menunjukan bahwa sesuatu itu  memadai dengan norma  yang harus diterapkan padanya. Jadi pertanggungjawaban hanyalah mungkin kalau ada norma-norma yang menetpkan bagaimana keadaan yang seharusnya. Dengan demikian kita berhadapan dengan pertanyaan : Manakah tolak ukur pertanggungjawaban moral? Itulah pertanyaan pokok etika normatif.

 

Kesadaran moral sendiri menuntut dasar-dasar objektif. Suara hati menuntut agar kita berttindak sesuai dengan tanggungjawab dan kewajiban kita yang sebenarnya dan bukan dengan apa yang sekedar kita rasakan atau yang menjadi pendapat orang lain. Suara hati menuntut agar kita terus menerus bertanya: apa sebenarnya yang dituntut dari saya sekarang? Bagaimana kita dapat mengetahui sikap-sikap dan tindakan-tindakan mana yang seharusnya kita ambil kalau kita mau bertanggungjawab secara moral?

Ada dua jawaban untu menjawab pertanyaan ini . Yang pertama berbunyi : “sesuaikan diri dengan norma-norma masyarakat”. Masyarakat disini bermakna umum.Namun, norma-norma masyaraktpun masih belum tentu dapat dimasyarakatkan. Masyarakt bisa betul, bisa saja keliru. Maka norma-norma masyarakat tidak mungkin menyediakan orientasi yang terakhir. Etika normatif justru merupakan alat kritis untuk mempersoalkan norma-norma yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat.

 

Tetapi apabila masyarakat dapat keliru, tetu saja saya sendiripun dapat keliru Oleh karena itu ada jawaban kedua yang juga tidak memadai . Jawaban iitu berbunyi : “ikutilah saja suara hatimu !”. Suara hati adalah kesadaran kita sendiri, dan kita tentu saja harus melakukan apa yang kita sadari sebagai kewajiban . Tetapi sekalai lagi, kesadaran itu dapat keliru. Karenanya perlu dididik, dan untuk itu kita memerlukan prinsip-prinsip objektif. Kesadaran moral saya sendiri mmerlukan norma-norma objektif dan tidak memuat kriteria kebenarannya sendiri. Perlu adanya orientasi objektif.

 

B.                             Etika Normatif dan Kebahagiaan

Ada tiga teori etika normatif yang akan diungkapkan disini, yang kesemuanya `menyatakan bahwa tujuan kehidupan manusia adalh kebahagiaan. Dan oleh karena itu prinsip dasar bagi segala tindakan kita adalah agar kebahagiaan tercapai.

 

Perbedaan antara tiga teori ini adalah bahwa dua teori pertama berorientasikan untuk mengusahakan kebahagiaan bagi orang yang bertindak itu sendiri, egoisme etis. Sedangkan teori yang ketiga menuntut agar kebahagiaan diusahakan bagi semua orang yang terkena akibat tindakan kita dan termasuk universalisme etis. Tiga teori itu adalah hedonisme, teori pengembangan diri, dan utilitarisme.

 

Ketiga teori tersebut memiliki kebersaman bahwa nilai moral tindakan (tindakan akhlaki atau bukan) itu ditentukan oleh tujuan yang mau dicapai dengannya: suatu tindakan adalah baik apabila mengusahakan kebahagiaan dan buruk apabila akan menghalang-halanginya. Teori-teori seperti ini wajar disebut teleologis.

 

C.                             Prinsip-Prinsip Moral Dasar

Kembali lagi ditekankan bahwa etika normatif bertolak pada pertanyaan : manakah tolak ukur terakhir untuk menilai tindakan manusia secara moral? Semua jawaban yang telah dikemukakan sebelumnya memang belum memadai untuk sekedar menjawab pertanyaan tersebut.

Dari ketiga teori etika normatif yang telah diungkapkan, dalam menyikapi hal ini beranggapan:

Pertama, Hedonisme etis beranggapan bahwa hendaknya manusia hidup sedemikian rupa sehingga ia semakin bahagia dengan terus mencari nikmat saja. Ini yang justru dipertanyakan, karena mencari nikmat saja tidak dapat mengharapkan akan mencapai kebahagiaan, karena manusia selalu merasa berkekurangan.

Kedua teori pengembangan diri, didalamnya memuat sesuatu yang hakiki bagi segenap program moral. Namun justru orang yang memikirkan pengembangan diri malahan tidak akan berkembang, karena ia hanya berkisar sekitar dirinya saja.

Ketiga , Utilitarisme mendobrak ketertutupan kedua teori sebelumnya. Ia mentapkan prinsip tangggung jawab universal sebagai dasarnya.

Dari utilitarisme ini, yang beranggapan bahwa kita sebagai manusia harus selalu bertanggungjawab terhadap akibat-akibat tindakan kita, bahwa kita hendaknya mengusahakan hasil-hasil yang paling baik bagi semua tetap berlaku. Dari inti utilitarisme ini kita bertolak , ada tiga prinsip ;

  1. Prinsip baik,

Kesadaran inti utilitarisme adalah jangan merugikan siapa saja, jadi bahwa sikap yang dituntut dari kita sebagai dasar dalam hubungan dengan siapa saja adalah sikap positif dan baik.

  1. prinsip keadilan

Adil pada hakikatnya adalah bahwa kita memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya. Secara singkat keadilan menuntut agar kita jangan mau mencapai tujuan-tujuan (termasuk yang baik) dengan melanggar hak orang lain.

  1. Prinsip hormat terhadap diri sendiri.

Prinsip inilah yang menuntut agar orang tidak membiarkan diri disalahgunakan. Ia mengatakan bahwa manusia wajib untuk memperlakukan diri sebagai sesuatau yang bernilai pada dirinya sendiri.

Hubungan antara ketiganya adalah bahwa prinsip keadilan dan hormat pada diri sendiri merupakan syarat pelaksanaan sikap baik, sedangkan sikap baik menjadi daar mengapa seseorang bersedia untuk bersikap adil.

Kebaikan dan keadilan yang kitta tunjukkan kepada orang lain perlu diimbangi dengan sikap menghormati diri kita sendiri. Kita bertekad untuk berbut baik kepada orang lain dan bertekad untuk bersikap adil, tetapi tidak dengan membuang diri.

 

Bagian Penutup : Sikap-sikap Kepribadian Moral yang Kuat

Kita bertolak dari kenyataan bahwa kita bebas. Kebebasan yang diberikan kepada kita (kebebasan sosial) , hanya merupakan ruang bagi kebebasan untuk menentukan diri kita sendiri ( kebebasan eksistensial). Berhadapan dengan berbagai pihak, yang mau menetapkan bagaimana kita harus mempergunakan kebebasan kita , kita dalam suara hati menyadari bahwa akhirnya kita sendirilah yang harus mengambil keputusan tentang apa yang harus kita lakukan. Kita sendirilah yang bertanggung jawab atas tindakan kita. Tidak ada orang yang dapat menghapus kenyataan ini. Dalam etika normatif kita lihat prinsip-prinsip dasar obyektif terhadapnya kita harus mempertanggung jawabkan kebebasan kita.

Setelah kesemuanya itu, akhirnya kita sampai pada pertanyaan : kita ini orang macam apa?. Untuk memperoleh kekuatan moral dan mendasari kepribadian yang mantap, jawabannya adalah dengan mengembangkan lima sifat berikut ini :

  1. Kejujuran,

Bersikap jujur berarti kita bersikap terbuka dan fair. Tanpa kejujuran sepi ing pamrih dan rame ing gawe akan menjadi sarana kelicikan jika tidak berakar kejujuran.

  1. Nilai-nilai otentik (manusiawi),

Manusia otentik adalah manusia yang menghayati dan menunjukkan diri sesuai keasliannya, dengan kepribadian yang sebenarnya,. Bukan orang jiplakan.

  1. Kebersediaan bertanggung jawab,

Bertanggungjawab termasuk kesediaan untuk diminta, untuk memberikan, pertanggungjawabna atas tindakan-tindakan kita, atas pelaksanaan tugas dan kewajibannya.

  1. Kemandirian moral,

Sikap mandiri pada hakikatnya adalah kemampuan untuk selalu membentuk penilaian sendiri terhadap suatu masalah moral.

  1. Keberanian moral,

Keberanian moral berarti menunjukkan diri dalam tekad untuk tetap mempertahankan sikap yang telah diyakini sebagai kewajiban .

  1. Kerendahan hati,

Kerendahan hati adalah kekuatan batin bahwa kita melihat diri kita seadanya.

  1. Realistik dan Kritis,

Realistik berarti menerima real-nya dunia ini, yang harus diikuti pula dengan sikap kritis untuk tidak menerima realitas begitu saja, namun disesuaikan dengan tuntunan prinsip-prinsip dasar. Tanggung jawab moral yang nyata menuntut realistik dan kritis. Kesemuanya itu adalah sikap-sikap uatama yang mendasari kepribadian yang mantap.

 

Tata Cara Sholat Menurut Madzhab Syi’ah Istna ‘Asyariyah

Fiqih

Tata Cara Shalat

Pertama kali, berdirilah dengan posisi tegak sambil mengadap Kiblat. Berniatlah untuk melaksanakan shalat dan tentukan jenis shalat yang ingin Anda kerjakan (shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya` atau Shubuh).

Bacalah takbiratul ihram (Allāhu Akbar) dan bersamaan dengan itu angkatlah kedua tangan Anda seperti terlihat di gambar.

Bacalah surah Al-Fātihah sebagai berikut:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ، إيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ، اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ

(Bismillāhirrohmānirrohīm ▪ Alhamdulillāhi robbil ‘Ālāmīn ▪ Arrohmānirrohīm ▪ Māliki yaumiddīn ▪ Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn ▪ Ihdinash shirōthol mustaqīm ▪ Shirōthol ladzīna an’amta ‘alaihim ghoiril maghdhūbi ‘alaihim waladh dhōllīn)

Kemudian bacalah satu surah sempurna dari sarah-surah Al Quran. Seperti:

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَ لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

(Qul huwallōhu ahad ▪ Allōhush shamad ▪ Lam yalid wa lam yūlad ▪ Wa lam yakul lahū kufuwan ahad)

Setelah itu, ruku’lah dan baca:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

(Subhā robbiyal ‘azhīmi wa bihamdih)

Kemudian bangunlah dari ruku’ sambil membaca:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

(Sami’allōhu liman hamidah)

Setelah itu, sujudlah dan baca:

سُبْحًانَ رَبِّيَ اْلأعْلَى وَبِحَمْدِهِ

(Subhāna rabbiyal a’lā wa bihamdih)

Kemudian duduklah di antara dua sujud seraya membaca:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّيْ وَ أتُوْبُ إلَيْهِ

(Astaughfirullōha rabbī wa atūbu ilaih)

Kemudian sujudlah untuk kedua kalinya seraya membaca bacaan sujud di atas.

Duduklah sejenak setelah bangun dari sujud dan sebelum berdiri untuk melanjutkan rakaat berikutnya.

Berdirilah kembali untuk melaksanakan rakaat kedua sambil membaca:

بِحَوْلِ اللهِ وَ قُوَّتِهِ أَقُوْمُ وَ أَقْعُدُ

(Bihaulillāhi wa quwatihī aqūmu wa aq’ud)

Dalam posisi berdiri itu, bacalah surah Al-Fātihah dan satu surah dari surah-surah Al-Quran.

Sebelum Anda melaksanakan ruku’ untuk rakaat kedua, bacalah qunut. Di dalam qunut Anda bebas membaca doa sesuai dengan keinginan Anda. Seperti doa memintakan ampun untuk kedua orang tua:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَ لِوَالِدَيَّ وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

(Rabbighfir lī wa liwālidaiyya war hanhumā kamā rabbayānī shaghīrā)

Lakukanlah ruku’ dan bacalah bacaan ruku’ di atas.

Lalu berdirilah dari ruku’ sambil membaca bacaan di atas.

Kemudian sujudlah dan baca doa sujud di atas.

Kemudian duduklah di antara dua sujud seraya membaca bacaan di atas.

Lalu sujudlah untuk kedua kalinya dan baca bacaan sujud di atas.

Setelah itu, duduklah dan baca bacaan tasyahhud pertama sebagai berikut:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكََ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ

(Asyhadu an lā ilāha illallōhu wahdahū lā syarīka lah ▪ Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh ▪ Allōhumma shalli ‘alā Muhammadin wa Āli Muhammad)

Kemudian berdirilah sambil membaca bacaan ketika berdiri di atas. Untuk rakaat ketiga dan keempat, sebagai ganti dari surah Al-Fatihah, Anda dapat membaca bacaan berikut ini:

سُبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ ِللهِ وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ

(Subhānallōh wal hamdulillāh wa lā ilāha illallōh wallōhu akbar).

Pada rakaat ketiga dan keempat ini Anda tidak perlu membaca surah apapun.

Setelah Anda selesai melaksanakan ruku’ dan sujud untuk kedua rakaat, Anda harus duduk untuk melaksanakan tasyahhud terakhir seraya membaca bacaan tasyahhud pertama di atas. Setelah itu, bacalah bacaan salam berikut sebagai penutup shalat Anda:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَ عَلىَ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Assalāmu‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullāhi wa barakātuh ▪ Assalāmu’alainā wa ‘alā ‘ibādillāhish shōlihīn ▪ Assalāmu’alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh).

Catatan!

Untuk shalat wajib yang kurang dari empat rakaat, seperti Maghrib

sumber:http://www.nurmadinah.com

Muslim Cina Rayakan Idul Adha Senin Ini

Info

Muslim Cina Rayakan Idul Adha Senin Ini

Muslim China menunaikan shalat Idul Adha di Linxia, Provinsi Gansu, China. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, YINCHUAN, CINA – Umat Muslim di China, khususnya di provinsi Ningxia dan Xinjiang melakukan shalat Idul Adha, Senin, 7 November, dan mendapatkan libur selama empat hari di Ningxia dan tiga hari di Xinjiang.

“Seluruh kantor pemerintahan libur selama empat hari untuk menghormati etnis Hui, sebagai etnis mayoritas di Ningxia dimana etnis Hui identik dengan Muslim,” kata wakil dewan agama Ningxia, Li Wen Ming, saat jumpa pers dengan para wartawan Indonesia dan Malaysia di Yinchuan, Ningxia, Senin (7/11).

Libur empat hari pada hari raya Idul Adha di provinsi Ningxia adalah untuk menghormati etnis Hui sebagai etnis mayoritas di sini. Dari jumlah penduduk Ningxia 6,3 juta orang, populasi etnis Hui mencapai 2,25 juta yang semuanya beragama Islam atau Muslim, katanya.

Sementara itu di Xinjiang libur selama tiga hari berturut-turut. Masjid Idkah, salah satu masjid terbesar di China, di kota Kashgar, provinsi Xinjiang, siap menerima sekitar 100.000 orang yang melakukan shalat sunat Idul Adha.

“Tahun lalu, ada sekitar 100.000 orang yang melakukan shalat Idul Adha di sini,” kata imam Masjid Idkah, Kasghar, Ilma.

Di Kashgar, kota strategis dalam jalur sutra ini, rakyat etnis Uyghur yang dominan di provinsi Xinjiang akan merayakan Idul Adha dengan menari dan bernyanyi di tempat umum. Masjid Idkha memiliki halaman luas di tengah kota yang biasanya juga digunakan untuk masyarakat etnis Uyghur merayakan libur Idul Adha dengan menari dan menyanyi.

Berbeda dengan Xinjiang dengan etnis Uyghur, di provinsi Ningxia, etnis Hui yang juga beragama Islam merayakan Idul Adha dengan memasak daging kurban dan makan bersama keluarga. Hanya propinsi yang diberikan otonomi khusus karena mayoritasnya muslim saja yang libur berkaitan dengan Idul Adha. Propinsi lainnya tidak libur.

Walaupun di bawah pemerintahan Partai Komunis China, namun kehidupan beragama Islam di propinsi yang etnis mayoritasnya Muslim dapat berkembang baik. Banyak terdapat masjid di propinsi Xinjiang dan Ningxia.

Di provinsi Ningxia dengan populasi muslim 2,25 juta dari total penduduk 6,3 juta, terdapat sekitar 3.700 masjid dan sekolah agama Islam.

Bahkan di Kashgar, salah satu kota di provinsi Xinjiang, nama toko, perkantoran, jalan dan penunjuk jalan menggunakan tiga bahasa sekaligus yakni bahasa Uyghur yang menggunakan bahasa Arab, bahasa Mandarin, dan bahasa Inggris.

Warga Suku Indian Maya Berbondong-bondong Masuk Islam

Info

Subhanallah...Warga Suku Indian Maya Berbondong-bondong Masuk Islam

Wanita Tzotzil Indian yang telah menjadi Muslim.

REPUBLIKA.CO.ID, MEXICO CITY – Dibesarkan sebagai seorang Kristen, Manuel Gomez sekarang berganti nama menjadi Mohamed Chechev. Tepatnya, setelah ia bersyahadat beberapa tahun lalu. Bersama beberapa Tzotzil lain, iabersyahadat setelah menrima pencerahan dari seorang Muslim asal Spanyol yang bermukim di Meksiko selatan.

“Saya Muslim, saya tahu kebenaran kini. Saya berdoa lima kali sehari, merayakan Ramadhan dan telah melakukan perjalanan ke Makkah,” kata Chechev dalam bahasa Spanyol.

Dia tinggal di sebuah komunitas Protestan di Chiapas disebut yang disebut Nueva Esperanza di pinggiran San Cristobal de las Casas. Dia berbagi sebuah rumah sederhana dengan 19 kerabat dan menjual sayuranyang ditanamnya di sebidang tanah.

Referensi Alkitab berlimpah-limpah di Nueva Esperanza, dengan jalan-jalan bernama Betlehem dan sejenisnya. Tetapi, Nueva Esperanza kini juga menjadi rumah bagi sekitar 300 warga Tzotzil, masyarakat adat asal Maya, yang telah masuk Islam dan hidup selaras dengan sisa populasinya.

Istri Chechev yang bernama Noora (terlahir bernama Juana) dan adik iparnya, Sharifa (sebelum berislam bernama Pascuala) juga menjadi Muslim mengikuti jejaknya. Mereka mengenakan gaun panjang dan kerudung menutupi rambut mereka.

Noora adalah putri dari seorang pemimpin pribumi Protestan yang diusir dari San Juan Chamula, kota terdekat di mana Partai Revolusioner Institusional dan keuskupan tertinggi Katolik memerintah. bersama puluhan keluarga lainnya, mereka terusir tahun 1961 karena mempertahankan agama Protestan.

“Di Chamula, tak menjadi Katolik atau anggota partai PRI adalah sebuah kejahatan. Mereka juga marah karena Protestan menganjurkan berhenti minum alkohol, salah satu bisnis lokal utama,” kata Susana Hernandez, yang tinggal di wilayah itu.

Beberapa orang pribumi telah sangat kritis terhadap umat Katolik untuk mengidentifikasi terlalu dekat dengan Partai Revolusioner Institusional yang memerintah Meksiko selama 70 tahun. Seorang pemimpin adat bernama Domingo Lopes, yang juga aktivis gereja Advent, belakangan menemukan pencerahan setelah mengenal Islam.

Ia menyatakan keislamannya tahun 1993, dan menjadi buah bibir di wilayah itu. Namun pada perkembangannya kemudian, banyak yang mengikuti jejaknya; menjadi Muslim.

Menurut antropolog Gaspar Morquecho, sebanyak 330 ribu warga Tzotzil di Chiapasmemang mempunyai sejarah beberapa kali pindah agama. Dulu, mereka dipaksa dengan kekerasan untuk menganut Katolik saat kollonialisme Spanyol merambah wilayah itu pada abad ke-16. Saat itu, hanya sedikit yang beragama Islam. Umumnya, mereka percaya agama leluhur, dan Protestan.

Masyarakat  amerika tengah sendiri kebanyakan beragama katolik .

 

sumber:http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/11/07/lua76w-subhanallahwarga-suku-indian-maya-berbondongbondong-masuk-islam

6 Wakil Asia yang Bersaing dengan Pulau Komodo

Info

JAKARTA – Eamonn Fitzgerald, Kepala Komunikasi New7Wonders dalam rilis yang diterbitkan dari Zurich, Swiss, menyebutkan 10 finalis mendapat suara terbanyak hingga Minggu (6/11/2011). Pulau Komodo salah satunya.
10 finalis New7Wonders menurut abjad adalah Dead Sea atau Laut Mati (Jordania, Israel, Palestina), the Grand Canyon (AS), the Great Barrier Reef (Australia), Halong Bay (Vietnam), Jeita Grotto (Lebanon), Jeju Island (Korsel), Komodo Island atau Pulau KOmodo (Indonesia), Puerto Princesa Underground River (Filipina), Sundarbans (Bangladesh, India) dan Vesuvius (Italia).
Hasil tersebut menunjukkan bahwa Pulau Komodo akan bersaing ketat dengan para kandidat lain dari sesama Asia. Selain Pulau Komodo, dari sepuluh kandidat itu enam di antaranya berasal dari Asia yaitu:
1.Dead Sea atau Laut Mati (Jordania, Israel, Palestina),
2.Halong Bay (Vietnam),
halong-bay-overview
3.Jeita Grotto (Lebanon),
4.Jeju Island (Korsel),
5.Puerto Princesa Underground River (Filipina)
6.Sundarbans (Bangladesh, India).
Mengomentari 10 finalis tersebut, Bernard Weber, Presiden dan Pendiri New7Wonders mengatakan hingga tahap ini para finalis dari Asia adalah kandidat kuat. Ini merefleksikan bahwa bagaimanan dunia kini berkembang ke arah timur (Asia). “Saat ini saya tahu bahwa akhirnya posisi 7 teratas akan berubah pada beberapa hari lagi. “Kami tetap bersemangat dan penasaran menyaksikan siapa yang akan unggul sementara pada 11/11/11,” ujarnya.
Hasil sementara 7 keajaiban dunia akan diumumkan pada pukul 19.00 GMT, Jumat (11/11/11).