1319341942_uwp5_16_27705

Epistemologi Tasawuf

Tasawuf

I. Pendahuluan

Selain kebebasan memilih, Tuhan juga memberikan kemampuan lain kepada manusia untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah. Kemampuan atau kecakapannya itu tak lain adalah kemampuannya dibidang ilmu pengetahuan.[1]

Tuhan berfirman, “Dia telah mengajarkan seluruh nama kepada Adam(as)” sebelum ia melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Artinya manusia dibekali ilmu secara langsung oleh Dzat yang Mahamengetahui  untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah dibumi.

Masalahnya, fitrah manusia itu juga dipengaruhi oleh hal-hal material yang ia pilih secara sadar selama hidupnya. Sehingga ada kemungkinan akan banyak hijab yang menghalanginya dari mengenal Allah sepenuhnya melalui ilmunya. Sehingga  akhirnya kebutuhan akan wasilah untuk menuju ma’rifatullah-pun niscaya. Dari sinilah Tuhan “turun”kan Syari’at, dan sejalan dengan itu tasawuf berperan sebagai wasilah yang tujuannya adalah ma’rifatullah . Tasawuf juga bisa dikatakan sebagai pelengkap fiqh.

Kita bisa menarik kesimpulan, bahwa tasawuf ini berhubungan dengan masalah pembersihan dan pengolahan  sisi batin diri manusia, yang meliputi nafs, aql,qalb, dan dzauq.[2]

Sisi tasawuf sebagai sarana mencapai ma’rifah atau sisi epistemologi tasawuf inilah yang akan menjadi acuan pembahasan dalam tulisan ini.

III. Pembahasan

Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh   pengetahuan.[3] Epistemologi didefinisikan sebagai cabang filsafat yang membicarakan tentang asal usul, cara memperoleh, hakikat, dan validitas suatu ilmu. Dan epistemologi dijadikan sebagai jawaban atas krisis intelektual.

A.      Sumber Ilmu Pengetahuan : Akal dan Hati

Tasawuf Islami mempunyai pengertian membersihkan diri (takhali) dari sesuatu yang hina, dan menghiasinya dengan sesuatu yang baik untuk mencapai tingkat yang lebih dekat dengan Allah atau sampai pada maqam yang tinggi.[4] Bagaimana dan darimanakah seorang sufi mampu memiliki pengetahuan sejati seperti itu?

Dalam kitab RisâlahalLadunniyyah al-Ghozali menampilkan gagasan epistemologi  ilmu pengetahuan. Dalam kitab ini, ia menjelaskan bahwa epsitemologi ilmu terbagi menjadi dua sumber penggalian.  Pertama, sumber insâniyah, adalah sumber pengetahuan yang bisa diusahakan oleh manusia berdasarkan kekuatan rekayasa akal. Kedua, sumber rabbâniyah, sumber  pengetahuan rabbâniyah  ini tidak dihasilkan melalui kemampuan akal, melainkan harus dengan informasi Allah, baik informasi langsung melalui ilhâm yang  dibisikkan ke dalam hati manusia, maupun petunjuk yang datang lewat wahyu yangditurunkan kepada nabi dan rasul-Nya.

al-Ghazâlî membagi perolehan ilmu yang  rabbâniyah menjadi dua jalan, yakni dengan jalan wahyu, dan dengan melalui ilhâm, atau yang ia sebut sebagai “Ilmu ladunnî”.

Dalam Risâlah al-Ladunniyyah-nya, al-Ghazâlî mengartikan ilmu ladunnî adalah ilmu yang menjadi terbuka dalam rahasia hati “tanpa perantara” karena ia datang langsung dari Tuhan ke dalam jiwa manusia. Dengan kata lain, ilmu ladunnî merupakan ilmu yang didatangkan dari Tuhan secara langsung tanpa sebab, yang membuat hati terbuka dalam memahami atau mengetahui sesuatu tanpa perantara atau tanpa sebab.

Ilmu hudhuri dalam tasawuf juga dikaitkan atau dianggap sama dengan ilmu ladunni.[5]

Pengetahuan hudhuri bergantung pada spiritual subyek. Hanya dengan mukasyafah dan dengan memasuki domain ‘irfan (teosofi), seseorang akan mendapatkan keberuntungan berupa pengetahuan hudhuri.

Pada umumnya para sufi[6] berbicara tentang tiga alat (atau kadang disebut sumber) ilmu pengetahuan, yaitu indra , akal, dan hati (intuisi).[7]

Panca indra manusia adalah alat pertama yang dinyatakan sebagai sumber pengetahuan yang benar berkaitan dengan alam material. Metode penelitian yang menjadi tumpuannya-pun adalah metode eksperimen.[8] Pengetahuan yang didapat indra masih sangat kurang tingkat validitasnya, karenanya ia tidak mampu menunjukkan pada kebenaran sejati (ma’rifat). Maka yang akan dibahas berikut ini adalah mengenai Hati dan akal.

1.      Akal

Dalam mensyarahi hadis di atas, Allamah Majlisi dalam kitab Mir’at al-‘Uqul menyatakan bahwa ’aql (akal) secara bahasa berarti pengikatan dan pemahaman terhadap sesuatu. Akal adalah kemampuan atau daya manusia untuk memikir dan mengenal diri. Al-Ghazali menulis dalam kitabnya al-Munqidz min al-Dhalal, sebagai berikut :

”Pada tahap awal kita akan mengira bahwa indralah satu-satunya alat pengetahuan yang akan membawa kita pada kepastian “.[9]

Hal itu memang bisa dibenarkan, namun selanjutnya keterbatasan indra masih menjadi sebab kemungkinan kurang validnya ilmu yang didapat. sehingga lemahlah kedudukan indra tersebut.

Kemudian ketika al-Ghazali beralih perhatiannya kepada akal, ia segera mengetahui kelebihan akal dibanding indra. Dalam salah satu tulisannya ia pernah mengatakan bahwa “akal lebih berhak disebut cahaya daripada indra.” Cahaya di sini tentu saja dipandang sebagai sesuatu yang terang pada dirinya dan dapat menyebabkan sesuatu yang gelap atau remang-remang pada dirinya, jadi terang dan terlihat jelas.

Akal dipandang sebagai “mudabbir” (pengelola) yang dapat mengendalikan nafsu- nafsu, sehingga nafsu tersebut bisa membantu (bukannya menghalangi) pertumbuhan spiritualitas seseorang. Dalam bukunya Kimia Kebahagiaan, al-Ghazali menganalogikan akal dengan wazir yang perintah-perintahnya harus diikuti oleh nafsu, yaitu nafsu syahwat, yang dianalogikan dengan “pengumpul pajak” dan nafsu ghadhabiyah, yang dianalogikan dengan polisi. Hanya dengan mengikuti instruksi-instruksi sang wazir maka mekanisme negara akan berjalan lancar dan memperoleh kemajuan.[10]

Tetapi kemudian si akal ini masih terperangkap dalam lembah subjektivitas. Pengatahuan yang dicapai akal berada di taraf ‘ain al-yaqin . Selain itu, kemampuan akal terbatas sehingga kebenaran yang ditangkap pun masih bersifat semu.

2.      Hati

Hati ini oleh al-Ghazali diumpamakan sebagai “Raja” yang memperkerjakan akal sebagai wazirnya, seperti yang telah disinggung, dengan nafsu syahwat dan ghadhabiyah, masing-masing sebagai pengumpul zakat dan polisi. Jadi hati inilah yang sebenarnya menentukan kebijakan dan tujuan hidup manusia, sedangkan akal dan nafsu sebagai para pelaksana dan bawahan yang diharapkan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan mencapai tujuan hidupnya.

Al-Qur’an biasanya menyebut kata qolb-yang diartikan secara populer sebagai wujud ruhani, dan tidak mesti merujuk pada segumpal daging yang biasa disebut hati dalam tubuh manusia[11]. Pemaknaan ‘qalb” lebih menunjuk pada sesuatu yang bersifat metafisik, dan bukan material atau jasmani.

Ia adalah kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia. Kemampuan inilah yang dapat memahami kebenaran secara utuh, ajeg, dan unique.

Berbeda dengan indra yang hanya bisa menangkap objek-objek konkret dan fisik, hati dapat menangkap objek-objek nonindrawi, tetapi berbeda dengan akal, yang menggunakan nalar diskurtif, hati dapat mengalami langsung objek-objek rohani, seperti halnya indra dapat menangkap secara langsung objek-objek fisiknya, sehingga ia bisa lebih menimbulkan keyakinan (kepastian) dibanding dengan akal.[12]

Tetapi alasan yang paling mendasar bagi kelebihan hati dibanding dengan akal dan juga indera, adalah kenyataan bahwa melalui hatilah Tuhan menyibakkan rahasia-rahasia keghaiban dalam peristiwa yang disebut “mukasyafah,” di mana seorang manusia dibukakan pintu hatinya untuk secara langsung dapat menyaksikan (musyahadah) realitas-realitas spiritual yang selama ini terhijab ratusan ribu cadar. Dengan demikian tersingkaplah ke dalam hati seorang sufi segala rahasia baik yang ada di alam nyata maupun alam ghaib, sehingga ia dapat membedakan mana yang benar-benar sejati dan mana yang ternyata palsu dan ilusif.[13]

Allah SWT berfirman,

”tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.[14]

Petunjuk bagi hati adalah ilham, pengarahan (taujih) rahasia-rahasia (asrar), tersingkapnya kegaiban (kasy) ,penyaksian (syuhud), kema’rifatan dan semakin naik dan tingginya tingkat taqarub kepada Allah.[15] Barangkali semua itu bagian dari yang dapat menyingkap hijab-hijab hati.

Sesungguhnya hakikat-hakikat maujud hanya bisa dicapai melalui “kasyf dan kesaksian hati” dengan melakukan sa ‘ir suluk dan riyadhoh. Kesaksian hati (musyahadah)  adalah pengalaman pribadi (pengalamn mistik) manusia (ma’rifat) yang langsung bisa “menyaksikan” sesuatu hal. Sehingga pengetahuannya haqq al-yaqin.

Hati manusia ibarat satu sumber dan manusiadapat mengambil manfaat dari satu sumber itu dengan menggunakan alat “penyucian hati” (tazkiyah an-nafs).

B.       Mukasyafah

Menurut ajaran thasawwuf atau thariqat  pada khususnya manusia itu dipengaruhi (ditutupi) oleh hal-hal material ,dipengaruhi oleh nafsu. Bila nafsu itu dapat dikendalikan penghalang material (hijab) disingkirkan, maka kekuatan rasa itu mampu bekerja,laksana antene menangkap objek-objek gaib. Didalam thasawwuf ini digambarkan sebagai keadaan fana jiwa mampu melihat yang gaib; dari situ diperolehlah pengetahuan.[16]

Apabila manusia bisa melepas diri dari keterikatannya pada dunia lahir (eksoteris) , maka ia dapat menyaksikannya secara langsung. “Jika  dirimu menjadi abstrak , niscaya kamu akan melihat yang abstrak”[17]

Kasyf merupakan suatu tingkatan tertinggi dalam tasawuf. Bagi orang yang mengalaminya, akan terbuka hijab(dinding atau tabir) yang mengantar rahasia hati nurani dan rahasia Ilahi akibat dari rasa dekatnya manusia kepada Allah SWT, yang didahului oleh sucinya hati nurani manusia.

Menurut bahasa kasyf berarti terbuka atau tidak tertutup . Biasanya , mukasyafah berarti juga penglihatan langsung ke alam malakut, setelah tersingkapnya hijab alam mulk wa al-syahadah.[18]

Pada tingkatan Kasyf manusia mampu mencapai ain al-yaqin, yakni pandangan kebenaran objektif yang mengacu pada kebenaran .

Al-Dzahabi menyatakan dalam Mu’jam Syuyukh al-Dzahabi-nya bahwa,

“Hanya ada dua jalan yang akan mengantarkanmu menuju ilmu Allah…

Jalan pertama adalah penyingkapan tabir (kasyf) Inilah ilmu yang tak terbantahkan yang diwujudkan melalui penyingkapan tabir dan yang ditemukan oleh seseorang dalam dirinya sendiri…

Jalan yang kedua adalah jalan perenungan dan pemikiran (istidhlal) melalui pencarian bukti dengan olah pikir(burhan al-aql).Jalan ini lebih rendah daripada jalan pertama, karena pertimbangan akal dapat disispi keraguan dan ketidakjelasan yang akan mengurangi  kekuatan buktinya.[19]

Didalam Islam pertumbuhan tashawwuf itu berakar pada diri Nabi Muhammad SAW. Dalam firman-Nya, Allah SWT menunjukkan dengan jelas tentang kemampuan untuk kasyf  ini lewat hati.

“Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),. ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan[20]

Berbeda dengan al-‘ilm yang bisa diperoleh lewat upaya seseorang, ma’rifat tidak dapat diperoleh lewat penalaran akal, tapi lewat penyingkapan (mukasyafah). Yang kesemuanya itu tergantung dari kehendak Tuhan. Ia seperti cahaya barakah yang terbersit dalam hati.

Ma’rifat dapat ditangkap apabila sang ‘arif mengalaminya secara langsung. Namun dalam tasawuf, pengalaman langsung ini bukan didapat pada tataran indrawi, melainkan pada tataran yang lebih tinggi lagi yaitu tataran intuitif.

Asy-Syarani mengutip ungkapan Zinnun al-Mishri seorang sufi mahsyur , “Siapa yang mengingat Tuhan secara Hakiki , niscaya ia akan lupa segala hal lain di sisi-Nya karena semua makhluk mengingat-Nya sebagaimana disaksikan oleh orang-orang yang mengalami kasyf.”

Ia juga menerangkan kasyf yang ia rasakan “…aku mendengar suara makhluk-makhluk lain dalam memuji Tuhan hingga aku merasa takut akan pikiranku sendiri. Aku mendengar ikan-ikan berkata,’Segala puji bagi Allah, Raja Yang Mahasuci[21]

Kasyf terbagi menjadi dua: Kasyf syaithani dan Kasyf Rabbani. Kasyf syaithani ialah apabila mengarah ke hal-hal yang bertentangan dengan syari’at atas bimbingan setan. Sedangkan kasfy Rabbani sebaliknya, yakni tersingkapnya tudung sehingga membuka hati bermakrifat kepada Allah SWT.,baik asma,sifat, maupun af An-Nya.[22]

 III.             Penutup

Dalam perjalanannya menuju ma’rifatullah, manusia perlu wasilah yang dapat mengantarkannya ketujuannya itu. Dalam hal ini, tasawuf dipandang sebagai wasilah bagi perjalanan manusia menuju-Nya.

Melalui akal inilah manusia dapat mengecap manisnya pengetahuan eksoteris, dan dengan hatilah seorang hamba mampu meraih maqam mukasyafah, mengetahui segala rahasia-rahasia esoteris  melalui tazkiyat an-Nafsnya. Wallahu a’lam.

Daftar Pustaka

Kabbani ,Syekh M. Hisyam ,Tasawuf Dan Ihsan , Penerjemah Zaimul Am, PT.Serambi Ilmu Semesta, Jakarta , 2007

Ibrahim, Muhammad Zaki, Tasawuf Hitam Putih, Penerbit Tiga Serangkai, Solo, 2004

Himawijaya, Mengenal al-Ghozali for Teen: Keraguan adalah awal keyakinan,  DAR! Mizan, Bandung:2004

Kartanegara , Mulyadhi, Menyelami Lubuk Tasawuf, Penerbit Erlangga,Jakarta, 2006

Tafsir, Prof. Dr.Ahmad, Filsafat Umum:Akal dan hati sejak Thales sampai Capra,Rosda,Bandung,2009

Siroj, Dr.KH. Said Aqil, “Tasawuf sebagai kritik sosial: mengedepankan Islam sebagai inspirasi, bukan aspirasi”  Mizan, Bandung, 2006.

M.Abdul Mujieb , Syafi’ah , H.Ahmad Ismail M, “Ensiklopedia tasawuf Imam Al-Ghazali: mudah memahami dan menjalankan Kehidupan Spiritual” , PT.Mizan Publika, Jakarta , 2009

Muhsin Labib, Mengurai Tasawuf, Irfan, & Kebatinan, Penerbit Lentera, Jakarta:2004

www.studiislam.com


[1] Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Penerbit Erlangga,Jakarta, 2006,Hal.84

[2] Himawijaya, Mengenal al-Ghozali for Teen: Keraguan adalah awal keyakinan, DAR! Mizan, Bandung:2004, Hal.54

[3] Prof. Dr.Ahmad Tafsir, Filsafat Umum:Akal dan hati sejak Thales sampai Capra,Rosda, Bandung, 2009,hal.23

[4] Muhammad Zaki Ibrahim, Tasawuf Hitam Putih, Penerbit Tiga Serangkai, Solo, 2004,Hal.3

[5] Muhsin Labib, Mengurai Tasawuf, Irfan, & Kebatinan, Penerbit Lentera,Jakarta,2004, hal.68

[6] Dalam hal ini bukan hanya sufi, para filosof juga sepakat mengenai tiga alat pengetahuan ini.

[7]Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2006, Hal.84

[8]Lihat. Prof. Dr.Ahmad Tafsir, Filsafat Umum:Akal dan hati sejak Thales sampai Capra,Rosda, Bandung, 2009, Hal.24

[9] Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2006,hal.86

[10] Nurcholis Madjid ,http://www.studiislam.com, di akses Sabtu 22 -10-2011, 11.25 WIB.

[11] Dr.KH. Said Aqil Siroj, “Tasawuf sebagai kritik sosial: mengedepankan Islam sebagai inspirasi, bukan aspirasi”  Mizan, Bandung:2006, hal.39

[12]Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Penerbit Erlangga, Jakarta:2006,Hal. 88

[13] Ibid, hal.87-88

[14] QS.At-taghabun:11

[15] Muhammad Zaki Ibrahim, Tasawuf Hitam Putih, Penerbit Tiga Serangkai, Solo,:2004,Hal. 21

[16] Ibid,hal.28

[17] Muhsin Labib, Mengurai Tasawuf, Irfan, & Kebatinan, Penerbit Lentera, Jakarta:2004,Hal.110

[18] Himawijaya, Mengenal al-Ghozali for Teen: Keraguan adalah awal keyakinan, DAR! Mizan, Bandung: 2004 , Hal.112

[19] Syekh M. Hisyam Kabbani ,Tasawuf Dan Ihsan., Penerjemah Zaimul Am, PT.Serambi Ilmu Semesta, Jakarta , 2007, Hal.193

[20] QS. Nur ayat 24.

[21] M.Abdul Mujieb , Syafi’ah,H.Ahmad Ismail M, “Ensiklopedia tasawuf Imam Al-Ghazali: mudah memahami dan menjalankan Kehidupan Spiritual” ,PT.Mizan Publika, Jakarta , 2009Hal:236

[22] Ibid, Hal;239

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s