holy_quran_by_zahideltelpany

Fitrah Dalam Perspektif Al-Qur’an

Mata Al-Qur'an

Ada tiga jalan untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Salah satunya melalui adalah Fitrah manusia itu sendiri. Dimana pada fitrahnya, manusia akan mengimani dalam hatinya akan keberadaan Dzat yang Maha tak terbatas sebagai sebab utama keberadaanya di dunia. Allah SWT menjelaskan hal tersebut dalam beberapa ayat Al-Qur’an berikut ini.

  1. Q.S Ar-Ruum ayat 30

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” Dalam catatan kaki terjemahan Al-Qur’an yang dikeluarkan dari Departemen Agama RI, Fitrah Allah maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama , yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak bertauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka yang tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan. Dalam beberapa tafsir, seperti Tafsir Jalallain disebutkan,

[فأقم] يا محمد [وجهك للدين حنيفا] مائلا إليه أي أخلص دينك لله أنت ومن تبعك [فطرة الله] خلقته [التي فطر الناس عليها] وهي دينه أي ألزموها [لا تبديل لخلق الله] لدينه أي لا تبدلوه بأن تشركوا [ذلك الدين القيم] المستقيم توحيد الله [ولكن أكثر الناس] كفار مكة [لا يعلمون] توحيد الله

Pada ayat ini jelas sekali, bahwa kecondongan manusia pada ad-Diin merupakan fitrah manusia yang tidak akan pernah berubah. Allamah Thaba’thabai memberikan penjelasan mengapa Din itu merupakan fitrah dalam kitab Tafsir Al-Mizan, beliau berkata yang artinya, “(Lantaran) Din tidak lain kecuali tradisi kehidupan dan jalan yang harus dilalui manusia, sehingga dia bahagia dalam hidupnya. Tidak ada tuhan yang ingin dicapai manusia, melainkan kebahagiaan.” Manusia, seperti juga makhluk lainnya, mempunyai tujuan dan mendapat bimbingan agar sampai kepada tujuannya. Bimbingan tersebut berupa fitrah yang akan mengantarkan dirinya kepada tujuan hidupnya. (Tafsir Al-Mizan, juz 21 halaman 178-179).

  1. Q.S Al-‘Ankabuut ayat 65

Artinya : “Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)” Ayat ini memberikan pengertian bahwa dalam keadaan terjepit (darurat) manusia dengan fitrahnya pasti akan mengharapkan adanya bantuan dari Dzat yang Maha Sempurna , Dzat Maha tak terbatas yang melebihi dirinya. Dalam tafsir Jalallain disebutkan pula,

[فإذا ركبوا في الفلك دعوا الله مخلصين له الدين] الدعاء أي لا يدعون معه غيره لأنهم في شدة لا يكشفها إلا هو

Manusia sebagai makhluk yang terbatas, akan selalu mendambakan bantuan kepada Dzat tak terbatas , sumber segala sesuatu. Biasanya fitrah itu muncul saat manusia merasa dirinya tidak berdaya dalam menghadapi kesulitan. Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan,

ثُمَّ أَخْبَرَ تَعَالَى عَنْ الْمُشْرِكِينَ أَنَّهُمْ عِنْد الِاضْطِرَار يَدْعُونَهُ وَحْده لَا شَرِيك لَهُ فَهَلَّا يَكُون هَذَا مِنْهُمْ دَائِمًا ” فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْك دَعَوْا اللَّه مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّين ” …

Kaum musyrikin disebutkan bahkan akan selalu memanggil-manggil dan mengakui keesaan Tuhan yang tidak ada sekutu bagi-Nya

  1. Q.S. Az-Zumar ayat 38

Artinya : “dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaKu, Apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaKu, Apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.”

            Dalam ayat ini disebutkan, bahkan apabila musyrikin ditanya tentang Pencipta alam semesta ini sekalipun, mereka pasti tetap akan mengatakan Allah SWT-lah penciptanya. Sayyid Quthb menyatakan , “Fitrah manusia tak mampu melontarkan kecuali pengakuan itu. Akal tidak mampu berdalih tentang penciptaan langit dan bumi kecuali adanya kehendak yang tinggi. “[1]

Inilah bentuk pengakuan haqiqat Allah menurut fitrah manusia seluruhnya, sekalipun kaum penyembah berhala(musyrik) maupun yang menolak kebenaran ini (atheis).


[1] Tafsir Fi Zhilalil Qur`an (Dibawah Naungan Al-Qur’an) : Jilid 10, penerjemah :As’ad Yasin dkk,Gema Insani Press, Jakarta, 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s