4-lilin-jpg

Ontologi, Aksiologi dan Epistemologi Tasawuf

Tasawuf

Mukasyafah itu pada intinya adallah ketercapaiannya kesadaran dalam diri manusia, akan keterbatasannya dia, atas keberadaan Allah SWT, Sang Mahaada, yang mana manusia , dan makhluk semuanya adalah sekedar ombak dari lautan, yang ada hanya lautan, ombak sebenarnya bergantung penuh pada adanya lautan.

Bagaimana cara  mencapai mukasyafah?

Jawabannya, adalah dengan sa ‘ir wa suluk, dan tazkiyatun nafs. Suluk adalah, melakukan segala ilmu yang diketahui. Tazkiyat an-nafs adalah melakukan penyucian diri, melepaskan ego dari diri, ikhlas dalam melakukan segala sesuatu tanpa adanya niatan atau tendensi selain Allah SWT semata. Dengan melepaskan segala keterikatan dengan alam eksoterik, manusia secara niscaya akan mampu mencapai rahasi-rahasia esoteris.

Antara ontologi, aksiologi, dan epistemologi bisa dikaitkan sebagai berikut,

Ontologi—– yang ingin dicapai dari tasawuf adalah Kebeningan jiwa, kedekatan dengan Dzat yang Maha dekat

Aksiologi—-Dengan menghapus akhlak buruk kita, dan menggantinya dengan akhlak yang baik,  serta menghiasinya dengan segala sikap baik secara kontinu

Epistemologi—-adalah pengetahuan yang didapat dari aksi tersebut yang dapat menghantarkannya pada kebeningan jiwa.

Apakah sama , musyahadah dengan mukasyafah?

Antara keduanya diibaratkan sebagai  satu koin mata uang yang punya dua sisi.

Ketika seorang ‘arif telah dibukakan hijab-hijab jiwanya, maka seketika itu juga ia melihat rahasia-rahasia esoteris di “matanya”. Seperti halnya seseorang yang menonton film dibioskop, disaat tirai layar d bioskop dibuka, maka ia saksikan film kesukaanya itu dihadapannya.

Perbedaan kasyf Rabbani dan Syaithani?

Kasf disebutkan ada dua kategori yaitu Kasyf rabbani dan Kasf syaithani . Kasyf rabbani adalah kasyf sesungguhnya, ia bukan fatamorgana atau imitasi . Sedangkan  Kasf syaithani sebenarnya bukan kasyf dalam arti sesungguhnya. Ia bisa diibaratkan sebagai hadist dho’if. Ia bukan hadist Nabi, hanya namanya saja “hadist” dalam ulumul hadits, karena ia sengaja “mengelabuhi  sehingga orang lain mengira bahwasannya ia adalah hadits nabi, padahal bukan.

Apa yang menjadi kesimpulan dalam pembahasan mukasyafah ini?

Sekiranya kita menyadari, bahwa sesungguhnya Allah SWT adala “Cahaya  langit dan Bumi” . Sehingga selayaknya kita mau membersihkan debu-debu ego dan nafsu diri kita. Dengan cara melakukan segala sesuatu yang kita ketahui. Memperbanya ibadah , muanajat, dan sebagainya. Seperti yang Rasulullah SAW dan para Nabi dan Imam lainnya, yang bahkan segala tindak tanduknya berdasarkan keridhoan dari Allah SWT. Mau mengalah demi beribadah. Itulah suluk. Wallahu a’lam.

Oleh : Yang Fana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s