“Akhlak, Adab, Perbuatan Akhlaki, dan Perbuatan Alami”

Filsafat Akhlak

I. Pendahuluan

Manusia adalah makhluk yang memiliki tiga kekuatan dasari: nafsu/syahwat, murka (ghodobiyah), dan akal.[1] Dalam melakukan suatu perbuatan,  seseorang akan bisa di klasifikasikan kedalam kelompok orang yang benar atau salah perbuatannya. Dari sini timbul pertanyaan, dengan apa suatu perbuatan disebut benar atau salah bahkan  lebih jauh lagi akhlaki atau alami.

Setelah pada kesempatan sebelumnya dijelaskan apa itu etika, moral, dan etiket , pada kesempatan kali ini akan kita bahas apa itu akhlak, adab, korelasinya dengan moral dan etika, serta hakikat dari perbuatan akhlaki dan perbuatan alami.

II. Pembahasan

A. Pengertian Akhlak

Kata akhlak, yang berasal dari bahasa Arab, sebagai bentuk jamak (plural) dari khuluq, mempunyai arti bahasa budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Sangat mirip dengan ini, di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Akhlak berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik .[2]

Secara istilai Ibn Miskawaih,[3] mengatakan bahwa akhlak adalah ”halun li an-nafsin da’iyun laha ila af’aliha min ghair fikrin wa la ruwiyyatin” . Keadaan atau kondisi jiwa yang mendorong manusia berbuat tanpa melalui pemikiran mendalam dan pertimbangan [4]

Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja. [5] Dari definisi-definisi tersebut dapat dipahami bahwa akhlak bukanlah merupakan perbuatan (lahir), melainkan suatu ”keadaan jiwa” dan karenanya bersifat abstrak. Meskipun demikian keadaan jiwa yang dimaksud tentu tidak dapat dilepaskan dengan perbuatan (lahir), sehingga keduanya harus saling berhubungan.

Akhlak adalah keadaan batin yang menjadi sumber lahirnya suatu perbuatan di mana perbuatan itu lahir secara spontan, mudah, tanpa menghitung untung rugi. Orang yang berakhlak baik, ketika menjumpai orang lain yang perlu ditolong maka ia secara spontan menolongnya tanpa sempat memikirkan resiko. Demikian juga orang yang berakhlak buruk secara spontan melakukan kejahatan begitu peluang terbuka.

Etika atau akhlak menurut pandangan al-Ghazali bukanlah pengetahuan (ma’rifah) tentang baik dan jahat atau kemauan (qudrah) untuk baik dan buruk, bukan pula pengamalan (fi’il) yang baik dan jelek, melainkan suatu keadaan jiwa yang mantap.

Relevan dengan ini, Suwito menjelaskan bahwa akhlak menurut para ahli masa lalu menunjuk pada dua hal: Pertama, kemampuan jiwa untuk melahirkan suatu perbuatan secara sepontan, tanpa pemikiran atau pemaksaan; Kedua, semua perbuatan yang lahir atas dorongan jiwa berupa perbuatan baik atau buruk.[6]

B. PengertianAdab

Adab adalah satu istilah bahasa Arab yang berarti adat kebiasaan. Kata ini menunjuk pada suatu kebiasaan, etiket, pola tingkah laku yang dianggap sebagai  model.[7]
Menurut Kabir Helminsky dalam tulisannya “Adab : The Courtesy of The Path” mendefinisikan : “Adab is courtesy, respect, appropriateness. Adab is not formality; it helps to create the context in which we develop our humanness”. Adab adalah kesopanan, rasa hormat, kesesuaian.Adab bukan formalitas, adab membantu untuk menciptakan konteks dimana kita mampu mengembangkan kemanusiaan kita.
 Dalam konteks ini, adab bisa dikatakan sama dengan etiket. Keduanya ,sesuai dengan salah satu karakteristik etiket menurut Bertens yaitu sama-sama berkaitan dengan tata cara suatu perbuatan yang harus dilakukan manusia. [8]

Adab merupakan tindakan baik yang berasal dari ikhtiar manusia. Meskipun berdasarkan nalar, dalam adab masih bersifat lokal dan relative. Pada kenyataannya manusia terdiri dari berbagai bangsa dan agama dengan gaya dan cara hidup berbeda. Sehingga suatu adab terkadang di pandang baik bagi  golongan tertentu dan dipandang buruk oleh golongan lainnya.

C. Perbuatan Akhlaki dan Perbuatan Alami.

Ada sejumlah perbuatan manusia yang dinamakan perbuatan akhlaki atau etis. Pernyataan ini meski tampak sederhana tetapi bernilai penting, karena ternyata tidak semua perbuatan manusia bisa dinamakan perbuatan akhlaki; diantara perbuatan manusia ada yang dinamakan perbuatan alami, bukan akhlaki.

Merujuk pada penjelasan – penjelasan sebelumnya , maka dapat dikatakan bahwa perbutan yang dapat disebut akhlak, atau meminjam istilah Murtadla Muthahhari sebagai perbuatan akhlaki, harus memenuhi dua persyaratan:

(1) Perbuatan-perbuatan itu dilakukan berulang kali, tentu dalam bentuk yang sama, sehingga keberadaannya menjadi sebuah kebiasaan. Karena itu perbuatan yang hanya dilakukan sekali saja maka belum bisa dikatakan akhlaki.

(2) Perbuatan itu dilakukan secara sengaja yang diusahakan oleh seorang manusia, didasarkan pada kehendak  yang kuat ( azimah ) tanpa adanya paksaan dari luar. Perbuatan yang lahir karena reflek dan paksaan, maka juga tidak bisa dinamakan perbuatan akhlaki.

Satu hal yang mesti ditekankan di sini adalah bahwa perbuatan akhlaki atau etis pada umumnya diperbandingkan dengan perbuatan alami. Diantara pendapat yang ada menyebutkan bahwa perbuatan akhlaki bercirikan pada nilai, maksudnya perbuatan etis atau akhlaki layak untuk dipuji dan disanjung. [9] Lebih jauh dapat dikatakan, bahwa intuisi setiap manusia mengakui akan ketinggian dan keagungan dari suatu perbuatan etis. Oleh karena perbuatan akhlaki mengandung nilai keagungan, maka subjek pelakunya layak untuk dipuji [10]dan tentu juga dicela bila terjadi sebaliknya.

Nilai akhlak atau dalam bahasa Misbah Yazdi adalah Nilai moral ,terdiri dari beberapa unsur :

1.Kepentingan

2.Pilih

3.Kepentingan Insani

4.Pilihan penuh sadar dan pertimbangan rasional[11]

Apakah segala macam tindakan yang dilakukan manusia–dengan plihan bebasnya dan dengan kepentingan apapun di dalamnya- niscaya akhlaki?. Tidak, karena jelas bahwa segala tindakan yang dilakukan guna memenuhi kebutuhan alamiahnya adalah bukan tindakan akhlaki, walaupun memang ada kepentingan didalamnya.

Seseorang yang makan dan minum untuk pemuasan insting lapar dan haus , atau bahkan seorang ibu yang menimang , menyusui, dan membelai kasih bayinya adalah hanya karena dorongan insting keibuannya, ia tidak akan disanjung.

Maka kepentingan suatu tindakan akhlaki bukan hanya karena dorongan pemenuhan insting, namun kepentingan yang diperoleh jiwa  manusia lewat tindakan-tindakan yang dimotivasi oleh suprainsting hewani manusia.

Berdasarkan syarat ini, perbuatan dianggap sebagai perbuatan alami apabila tindakan tersebut didasari oleh pemenuhan insting-insting hewani manusia semata.

III. Penutup

Dalam buku ”Introduction to Logic”,  karangan Irving Copiantara etika ,moral,  dan akhlak dikorelasikan sebagai berikut :”ethics is the science, morals is a doctrine, and morals are human behavior”. Etika adalah ilmu, moral adalah ajaran, dan akhlak adalah tingkah laku manusia.

Walhasil, di mana ada tindakan yang dilakukan Karena perintah atau larangan akal dan dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan akal, disana pula ada nilai moral.[12] Segala puji bagi bagi Allah yang telah membekali manusia dengan akal.

DaftarPustaka

Yazdi, M.T Mishbah .”meniru Tuhan”. Al-Huda. Jakarta

Muthahhari, Murtadla,. “Falsafah Akhlak”, diterjemahkan olehF aruq bin Dliya’, Pustaka Hidayah, Bandung: 1995

Bertens, K. “Etika”. Jakarta: PT. GramediaPustakaUtama . 2000

www.wikipedia.com

http://Imronfauzi.wordpress.com


[1] M.T MishbahYazdi, ,”meniruTuhan”, Al-Huda, Jakarta ,Hal:134

[2]Ahmad A.K. Muda. 2006. KamusLengkapBahasa Indonesia. Jakarta: Reality Publisher. Hal 50..

[3]Nama lengkap Ibnu Miskawayh adalah Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin Yaqub ibn Miskawayh. Ia lahir  di kota Ray (Iran) pada 320 H (932) M) danwafat di Asfahan 9 Safar 421 H (16 Februari 1030 M).  Ibnu Miskawayh mendapat gelar guru ketiga setelah al-Farabi.

[5]Bertens, K. “Etika”. Jakarta: PT. GramediaPustakaUtama :2000. Hal 76

[6]Muthahhari, Murtadla,. “FalsafahAkhlak”, diterjemahkanolehFaruq bin Dliya’, PustakaHidayah, Bandung: 1995

[8]Bertens, K..“Etika”. Jakarta: PT. GramediaPustakaUtama : 2000.

[9]Muthahhari, Murtadla,. “Falsafah Akhlak”, diterjemahkan oleh Faruq bin Dliya’, Pustaka Hidayah, Bandung: 1995.Hal. 12-14. Dalam konteks ini, Muthahhari mengemukakan sejumlah contoh: Memaafkan, menyayangi binatang , membalas budi dan setia kawan.

[10]Ibid. Hal29-30.

[11]Yazdi, M.T Mishbah .”meniru Tuhan”.Al-Huda. Jakarta

[12]Yazdi, M.T Mishbah .”meniruTuhan”.Al-Huda. Jakarta.Hal:134

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s