Resensi buku “Etika Dasar : Masalah-masalah pokok Filsafat Moral” Dr.Franz Magnis Suseno

Uncategorized

I.                   Pendahuluan

            Buku yang berjudul “Etika Dasar : Masalah-masalah pokok Filsafat Moralkarya Dr.Franz Magnis Suseno ini adalah penulisan kembali dan sedikit revisi dari bukunya yang berjudul “Etika Umum”. Mengutip pernyataan beliau dalam Prakata , “Tujuan buku ini : menjadi alat orientasi … menyediakan sarana-sarana teoritis agar pembaca sendiri dapat menghadapi masalah-masalah moral yang muncul dengan lebih positif, kritis dan mantap.”

Dalam buku ini terdapat sepuluh bab , antara lain:

Bab 1   : Untuk Apa Beretika?

Bab 2   : Apa itu Kebebasan?

Bab 3   : Tanggung jawab dan Kebebasan

Bab 4   : Suara Hati

Bab 5   : Mempertanggungjawabkan Suara Hati

Bab 6   : Mengembangkan Suara Hati

Bab 7   : Tolak Ukur Pertanggungjawaban Moral

Bab 8   : Menuju Kebahagiaan

Bab 9   : Prinsip-prinsip Moral Dasar

Bab 10: Sikap-sikap Kepribadian yang Kuat

Mengingat tulisan ini adalah resensi, dalam tulisan ini saya memadatkan dari sepuluh bab ini kedalam tiga bagian, sesuai dengan pembagian yang penulis juga paparkan dalam bukunya : Bagian pertama : Kebebasan dan tanggung jawab, Bagian kedua : Kesadaran Moral, dan Bagian ketiga : Etika Normatif.

 

 

 

II.                Pembahasan

 

Bagian pertama : Kebebasan dan tanggung jawab

A.                 Kebebasan

Etika yang menjadi pokok bahasan buku ini dapat dipandang sebagai sarana orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab suatu pertanyaan yang sangat fundamental : bagaimana saya harus hidup dan bertindak?. Ditengah banyaknya jawaban yang dipaparkan berkaitan dengan pertanyaan ini, etika membantu kita agar kita mengerti sendiri mengapa kita harus bersikap begini atau begitu. Etika membantu kita agar kita lebih bertanggung jawab. Ada dua bentuk kebebasan yang dibedakan dalam buku ini :

1.               Kebebasan Eksistensial

Kemampuan untuk menentukan diri sendiri yang dimiliki tiap-tiap manusia ini disebut kebebasan eksistensial. Bertindak begini atau begitu secara sengaja adalah wujud positif dari kesanggupan kita dalam menentukan tindakan kita sendiri, ia adalah wujud dari kebebasan. Dalam hal ini sebuah kegiatan manusia menjadikan kesengajaan , maksud dan tujuan tertentu , serta kesadaran bahwa tergantung pada kitalah apakah kegiatan itu kita lakukan atau tidak sebagai syarat-syarat disebut tindakan.

 

Dari sini dapat kita ketahui bahwa tidak semua kegiatan manusia adalah tindakan. Denyut jantung, mata yang berkedip , pernafasan bukanlah merupakan tindakan , karena berjalan tanpa disengaja, tanpa kesadaran apakah kegiatan itu kita lakukan atau tidak.

 

Jadi kebebasan eksistensial adalah kemampuan untuk menentukan tindakannya sendiri. Kemampun itu bersumber pada kemampuan manusia untuk berfikir dan berkehendak dan terwujud dalam tindakan.

 

Artinya kebebasan ekstensial berakar pada kemampuan penguasaan  manusia terhadap fikiran , kehendaknya , terhadap batinnya yang kemudian akan diwujudkan dalam dimensi lahiriah. Kemampuan ini disebut sebagai kebebasan Rohani. Sedangkan kemampuan manusia untuk menggerakkan tubuhnya sesuai dengan kehendaknya , dan tentunya masih dalam batas-batas kodratnya sebagai manusia disebut kebebasan jasmani.

 

Antara kebebasan jasmani dan kebebasan rohani terdapat hubungan yang sangat  erat. Dapat dikatakan bahwa tindakan adalah suatu kehendak (bukan insting seperti hewan)  yang menjelma dan menjadi nyata, dan kehendak adalah permulaan tindakan.

2.               Kebebasan Sosial

Kebebasan eksistensial hanya dapat bergerak sejauh manusia lain tidak menghalang-halanginya. Dengan kata lain, kebebasan eksistensial manusia adalah kebebasan dari pembatasan oleh niat atau kehendak manusia lain. Kebebasan jasmani dibatasi dengan paksaan secara fisik, kebebasan Rohani walaupun tidak dapat dibatasi secara langsung  dapat dikurangi melalui tekanan psikis . Kemudian manusia juga memiliki pembatasan lain yaitu perintah (pewajiban) dan larangan yang apabila kita bebas dari itu disebut kebebasan normatif. Ketiga sudut kebebasan ini disebut kebebasan sosial. Jadi kebebasan sosial adalah keadaan dimana kemungkinan kita untuk bertindak tidak dibatasi dengan sengaja oleh orang lain.

 

B.                 Kebebasan Sosial, Kebebasan Eksistensial dan Tanggung Jawab

Sebagai makhluk sosial yang memilki kebebasan sosial dan hidup bersama dalam dunia sosial yang terbatas, sudah jelas bahwa manusia harus menerima bahwa masyarakat membatasi kesewenangannya. Jadi kebebasan sosial kita terbatas dengan sendirinya. Namun perlu diketahui juga bahwa masyarakat tidak boleh mengadakan pembatasan yang sewenang-wenang dengan motif sebagai usaha untuk menjamin kebebasan dan hak serta kepentingan wajar seluruh warga masyarakat dan harus normatif. Suatu pembatasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan , tidak dapat dibenarkan.

Kebebasan eksistensial berarti bahwa bagaimanapun kita harus mengambil sikap , dan kitalah yang bertanggung jawab atas sikap dan tindakan kita dan bukan masyarakat. Sikap yang kita ambil secara bebas hanya memadai apabila sesuai dengan tanggung jawab objektif itu. Semakin berkembang kebebasan eksistensial manusia , semakin kuat pula pribadinya untuk bersedia bertanggung jawab. Setiap sikap yang kita ambil tidak berada dalam ruang kosong, namun meniscayakan adanya tanggung jawab kita sebagai pelakunya.

Sebaliknya, semakin orang menolak untuk bertanggung jawab, semakin sempit dan lemah pula kepribadiannya, jadi semakin berkurang juga kebebasannya untuk menentukan dirinya sendiri.

Kebebasan eksistensial yang bertanggungjawab menyatakan diri dalam pola moralitas yang otonom. Manusia bermoralitas otonom melakukan kewajiban dan tanggungjawabnya bukan karena takut (seakan ada paksaan) , atau merasa tertekan (psikisnya), melainkan ia sadar sendiri, jadi menyadari nilai dan makna serta perlunya kewajiban dan tanggung jawab itu

Bagian kedua : Kesadaran Moral

 A.                             Suara Hati

Dalam bagian sebelumnya nampak bahwa disatu sisi kebebasan eksistensial menuntut adanya otonomi moral. Dan disisi lain kebebasan sosial dapat dibatasi oleh masyarakat. Bertolak dari dua kenyataan itu, dalam berhadapan dengan masyarakat suara hati kita menyatakan diri.

Suara hati adalah kesadaran moral kita dalam situasi konkret. Di dalam pusat hati kita yang disebut hati , kita sadar apa yang sebanarnay dituntut dri kita. Meskipun banyak fihak yang mengatakan kepada kita apa yang wajibdilakukan , tetapi dalam hati kita sadra bahwa akhirnya hanya kitalah yang mengetahuinya. Jadi bahwa kota berhak dan juga wajib untuk hidup sesuai dengan apa yang kita sadari sebagai kewajiban dan tanggung jawab itu.

Yang harus pertama-tama kita sadari dalam suara hati adalah : suara hati harus selalu ditaati. Kesadaran ini termasuk inti suara hati sendiri. Tandanya ialah bahwa kita merasa bersalah apabila kita mengelak dari suara hati. Meskipun  suara hati kita dapat keliru, namun kita Harus selalu taat padanya, karena suara hati adalah kesadarn kita yang langsung tetntang apa yanng menjadi kewajiban kita..

Suara hati adalah pangkal otonomi manusia , pusat kemandiriannya, unsur yang tidak mengizinkan manusia menjadi pengekor yang mudah digiring menurut pendapat orang lain.

Yang dilakukan suara hati adalah memberikan sebuah penilain-penilaian moral. Ia bukan sekedar masalah perasaan semata dan selalu berlaku umum. Dan karena suara hati adalh bukan masalah perasaan belaka, dan karena suara hati memiliki mengklaim rasionalitas dan objektifitas, maka ia harus dipertanggng jawabkan.

Namun tidak berarti bahwa dengan rasionalitasnya , suara hati  dan segenap pandangan moralnya harus dibuktikan terlebih dahulu, melainkan kita harus terbuka bagi setiap argumen , sangkaln, pertanyaan, dan keragu-raguan dari orang lain atau bahkan dari hati kita sendiri.

 

B.                             Mengembangkan Suara Hati

Dalam etika dikatakan bahwa kesatuan faham moral hanya dapat tercapai apabila kita bersedia untuk menenmpati “titik pangkal moral”. Dengan titik pangkal moral dimaksudkan agar orang harus bersedia dulu untuk mengambil sikap moral, baru tercapailah dasar untuk bersama-sama mencari penilaian yang tepat . Mengambil titik pangkal moral seperti itu hanya mungkin bagi orang yang memilki kepribadian yang kuat dan matang.

 

Untuk mencapai kematangan itu, kita harus berusaha dalam dimensi kognitif dan afektif. Dalam dimensi kognitif kita harus berusaha agar suara hati memberikan penilaian-penilaiannya berdasarkan pengertian yang tepat. Atau dengan kata lain, kita harus “mendidik” suara hati.

 

Mendidik suara hati berarti kita harus selalu mau belajar, mau memahami pertimbangan-pertimbangan etis yang tepat dan seperlunya memperbaharui pandangan-pandangan kita.Jadi yang diperlukan dalam mendidik segi kognitif suara hati adalah keterbukaan.

 

Selanjutnya, tentang bagaimana kesanggupan kita untuk selalu bertindak sesuai dengan suara hati dapat dikembangkan dri segi afektif atau volitif. Manusia tidak dapat menjadi dirinya sendiri kecuali ia menjadi sepi ing pamrih, bebas dari penguasaan oleh kekuatan-kekuatan irrasional (nafsu) dan segala macam emosi atau dalam bahasa jawanya pamrih . Manusia bebas dari pamrih tidak perlu gelisah akan dirinya sendiri, ia mengontrol nafsu-nafsu an emosi-emosinya. Karena ia sepi ing pamrih, ia akan semakin rame ing gawe, artinya semakin sanggup memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya.

 

C.                 Suara Hati dan Super  Ego

Istilah super ego dan suara hati sering disama artikan dalam pandangan masyarakat. Sebenarnya ada unsur-unsur dalam suara hati yang tidak sesuai dengan superego.

Suara hati itu bicara karena mengerti apa yang secara objektif merupakan tanggung jawab dan kewajiban objektif merupakan tindakan yang paling bernilai bagi manusia.Unsur pengertian yang disertai faham tentang nilai tindakan yang diharuskan, kesadaran bahwa memang sudah semestinya kalau saya bertindak demikian, itulah yang khas bagi suara hati.

Sedangkan superego hanya menekan, menegur,tidak memperdulikan tepat-tidaknya tindakan dari sudut tanggung jawab. Superego bersifat otomatis, tidak kaku , melainkan berpedoman pada kesadaran nilai. Ia berdiri selau tidak lepas dari kesadaran nilai ego. Oleh karena itu, dapat saja terjadi bahwa orang justru akan melanggar kewajibannya apabila ia mengikuti superegonya apabila ia lepas dari kesadaran nilai egonya. Kesadaran moral menuntut agar kita justru kritis terhadap superego kita sendiri.

 

Kesadaran moral yang dewasa , matang atau otonom adalah kesadaran yang ditentukan oleh kesadaran nilai ego. Ego adalah “aku” yang sadar, subjektivitas kita, pusat kesadaran dan keunginan kita. Ego adalah kedirian kita yang merasakan, mengambil keputusan menghendaki, dan bertindak.

 

Maka merupakan ciri orang yang kesadaran moralnya dewasa, bahwa superegonya selalu menyesuaikan diri dengan apa yang dinilainya tepat. Itulah orang yang terbuka terhadap yang baru dan yang akan bertindak berdasarkan tanggung jawabnya yang nyata.

 

Bagian ketiga : Etika Normatif

 A.                             Manakah Tolak Ukur Pertanggungjawaban Moral?

Kewajiban moral kita sadari sebagai sesuatu yang mengikat dengan mutlak , tetapi sekaligus adanya keharusan kita untuk mempertanggungjawabkan pendpat kita tentang kewajiban moral secara rasional.

 

Tetapi apa artinya mempertanggungjawabkan? Mempertanggungjawabkan sesuatu berarti bahwa kita dapat menunjukan bahwa sesuatu itu  memadai dengan norma  yang harus diterapkan padanya. Jadi pertanggungjawaban hanyalah mungkin kalau ada norma-norma yang menetpkan bagaimana keadaan yang seharusnya. Dengan demikian kita berhadapan dengan pertanyaan : Manakah tolak ukur pertanggungjawaban moral? Itulah pertanyaan pokok etika normatif.

 

Kesadaran moral sendiri menuntut dasar-dasar objektif. Suara hati menuntut agar kita berttindak sesuai dengan tanggungjawab dan kewajiban kita yang sebenarnya dan bukan dengan apa yang sekedar kita rasakan atau yang menjadi pendapat orang lain. Suara hati menuntut agar kita terus menerus bertanya: apa sebenarnya yang dituntut dari saya sekarang? Bagaimana kita dapat mengetahui sikap-sikap dan tindakan-tindakan mana yang seharusnya kita ambil kalau kita mau bertanggungjawab secara moral?

Ada dua jawaban untu menjawab pertanyaan ini . Yang pertama berbunyi : “sesuaikan diri dengan norma-norma masyarakat”. Masyarakat disini bermakna umum.Namun, norma-norma masyaraktpun masih belum tentu dapat dimasyarakatkan. Masyarakt bisa betul, bisa saja keliru. Maka norma-norma masyarakat tidak mungkin menyediakan orientasi yang terakhir. Etika normatif justru merupakan alat kritis untuk mempersoalkan norma-norma yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat.

 

Tetapi apabila masyarakat dapat keliru, tetu saja saya sendiripun dapat keliru Oleh karena itu ada jawaban kedua yang juga tidak memadai . Jawaban iitu berbunyi : “ikutilah saja suara hatimu !”. Suara hati adalah kesadaran kita sendiri, dan kita tentu saja harus melakukan apa yang kita sadari sebagai kewajiban . Tetapi sekalai lagi, kesadaran itu dapat keliru. Karenanya perlu dididik, dan untuk itu kita memerlukan prinsip-prinsip objektif. Kesadaran moral saya sendiri mmerlukan norma-norma objektif dan tidak memuat kriteria kebenarannya sendiri. Perlu adanya orientasi objektif.

 

B.                             Etika Normatif dan Kebahagiaan

Ada tiga teori etika normatif yang akan diungkapkan disini, yang kesemuanya `menyatakan bahwa tujuan kehidupan manusia adalh kebahagiaan. Dan oleh karena itu prinsip dasar bagi segala tindakan kita adalah agar kebahagiaan tercapai.

 

Perbedaan antara tiga teori ini adalah bahwa dua teori pertama berorientasikan untuk mengusahakan kebahagiaan bagi orang yang bertindak itu sendiri, egoisme etis. Sedangkan teori yang ketiga menuntut agar kebahagiaan diusahakan bagi semua orang yang terkena akibat tindakan kita dan termasuk universalisme etis. Tiga teori itu adalah hedonisme, teori pengembangan diri, dan utilitarisme.

 

Ketiga teori tersebut memiliki kebersaman bahwa nilai moral tindakan (tindakan akhlaki atau bukan) itu ditentukan oleh tujuan yang mau dicapai dengannya: suatu tindakan adalah baik apabila mengusahakan kebahagiaan dan buruk apabila akan menghalang-halanginya. Teori-teori seperti ini wajar disebut teleologis.

 

C.                             Prinsip-Prinsip Moral Dasar

Kembali lagi ditekankan bahwa etika normatif bertolak pada pertanyaan : manakah tolak ukur terakhir untuk menilai tindakan manusia secara moral? Semua jawaban yang telah dikemukakan sebelumnya memang belum memadai untuk sekedar menjawab pertanyaan tersebut.

Dari ketiga teori etika normatif yang telah diungkapkan, dalam menyikapi hal ini beranggapan:

Pertama, Hedonisme etis beranggapan bahwa hendaknya manusia hidup sedemikian rupa sehingga ia semakin bahagia dengan terus mencari nikmat saja. Ini yang justru dipertanyakan, karena mencari nikmat saja tidak dapat mengharapkan akan mencapai kebahagiaan, karena manusia selalu merasa berkekurangan.

Kedua teori pengembangan diri, didalamnya memuat sesuatu yang hakiki bagi segenap program moral. Namun justru orang yang memikirkan pengembangan diri malahan tidak akan berkembang, karena ia hanya berkisar sekitar dirinya saja.

Ketiga , Utilitarisme mendobrak ketertutupan kedua teori sebelumnya. Ia mentapkan prinsip tangggung jawab universal sebagai dasarnya.

Dari utilitarisme ini, yang beranggapan bahwa kita sebagai manusia harus selalu bertanggungjawab terhadap akibat-akibat tindakan kita, bahwa kita hendaknya mengusahakan hasil-hasil yang paling baik bagi semua tetap berlaku. Dari inti utilitarisme ini kita bertolak , ada tiga prinsip ;

  1. Prinsip baik,

Kesadaran inti utilitarisme adalah jangan merugikan siapa saja, jadi bahwa sikap yang dituntut dari kita sebagai dasar dalam hubungan dengan siapa saja adalah sikap positif dan baik.

  1. prinsip keadilan

Adil pada hakikatnya adalah bahwa kita memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya. Secara singkat keadilan menuntut agar kita jangan mau mencapai tujuan-tujuan (termasuk yang baik) dengan melanggar hak orang lain.

  1. Prinsip hormat terhadap diri sendiri.

Prinsip inilah yang menuntut agar orang tidak membiarkan diri disalahgunakan. Ia mengatakan bahwa manusia wajib untuk memperlakukan diri sebagai sesuatau yang bernilai pada dirinya sendiri.

Hubungan antara ketiganya adalah bahwa prinsip keadilan dan hormat pada diri sendiri merupakan syarat pelaksanaan sikap baik, sedangkan sikap baik menjadi daar mengapa seseorang bersedia untuk bersikap adil.

Kebaikan dan keadilan yang kitta tunjukkan kepada orang lain perlu diimbangi dengan sikap menghormati diri kita sendiri. Kita bertekad untuk berbut baik kepada orang lain dan bertekad untuk bersikap adil, tetapi tidak dengan membuang diri.

 

Bagian Penutup : Sikap-sikap Kepribadian Moral yang Kuat

Kita bertolak dari kenyataan bahwa kita bebas. Kebebasan yang diberikan kepada kita (kebebasan sosial) , hanya merupakan ruang bagi kebebasan untuk menentukan diri kita sendiri ( kebebasan eksistensial). Berhadapan dengan berbagai pihak, yang mau menetapkan bagaimana kita harus mempergunakan kebebasan kita , kita dalam suara hati menyadari bahwa akhirnya kita sendirilah yang harus mengambil keputusan tentang apa yang harus kita lakukan. Kita sendirilah yang bertanggung jawab atas tindakan kita. Tidak ada orang yang dapat menghapus kenyataan ini. Dalam etika normatif kita lihat prinsip-prinsip dasar obyektif terhadapnya kita harus mempertanggung jawabkan kebebasan kita.

Setelah kesemuanya itu, akhirnya kita sampai pada pertanyaan : kita ini orang macam apa?. Untuk memperoleh kekuatan moral dan mendasari kepribadian yang mantap, jawabannya adalah dengan mengembangkan lima sifat berikut ini :

  1. Kejujuran,

Bersikap jujur berarti kita bersikap terbuka dan fair. Tanpa kejujuran sepi ing pamrih dan rame ing gawe akan menjadi sarana kelicikan jika tidak berakar kejujuran.

  1. Nilai-nilai otentik (manusiawi),

Manusia otentik adalah manusia yang menghayati dan menunjukkan diri sesuai keasliannya, dengan kepribadian yang sebenarnya,. Bukan orang jiplakan.

  1. Kebersediaan bertanggung jawab,

Bertanggungjawab termasuk kesediaan untuk diminta, untuk memberikan, pertanggungjawabna atas tindakan-tindakan kita, atas pelaksanaan tugas dan kewajibannya.

  1. Kemandirian moral,

Sikap mandiri pada hakikatnya adalah kemampuan untuk selalu membentuk penilaian sendiri terhadap suatu masalah moral.

  1. Keberanian moral,

Keberanian moral berarti menunjukkan diri dalam tekad untuk tetap mempertahankan sikap yang telah diyakini sebagai kewajiban .

  1. Kerendahan hati,

Kerendahan hati adalah kekuatan batin bahwa kita melihat diri kita seadanya.

  1. Realistik dan Kritis,

Realistik berarti menerima real-nya dunia ini, yang harus diikuti pula dengan sikap kritis untuk tidak menerima realitas begitu saja, namun disesuaikan dengan tuntunan prinsip-prinsip dasar. Tanggung jawab moral yang nyata menuntut realistik dan kritis. Kesemuanya itu adalah sikap-sikap uatama yang mendasari kepribadian yang mantap.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s